My Foottrip

Helena's journey to here and there

Dibayar untuk Liburan, Siapa yang Tak Ingin Jadi Travel Blogger? (Bagian 1)

Melihat para travel blogger seperti Marischka Prudence, Fahmi Anhar, Wira Nurmansyah, Danan Wahyu, Dua Ransel, juga Alm. Cumi Mz Toro yang kerjanya liburan melulu membuat saya mupeng. Waktu itu saya masih berstatus sebagai pekerja kantoran. Tiap hari saya berhadapan dengan komputer dan file-file sementara mereka bisa jalan-jalan ke pantai, gunung, bahkan luar negeri secara cuma-cuma. Enak banget liburan dibayarin! Travel blogger menjadi impian saya saat itu.

Setelah menekuni dunia blogging, saya menyadari travel blogger tidak sekadar jalan-jalan lalu eksis di media sosial. Mereka bekerja dengan target-target tertentu. Untuk menjadi travel blogger yang nge-hitz dengan pageview tinggi dan followers puluhan ribu butuh usaha keras. Ga percaya? Ini nih tips menjadi travel blogger dari Marischka Prudence dalam #ArisanIlmuKEB pekan lalu di fX Sudirman.

Konsumsi yang dibawa emak-emak peserta Arisan Ilmu KEB banyaaak. Kenyang!

Di awal acara, Mak Ketu Sumarti Saelan mengucap syukur akhirnya arisan ilmu KEB (Kumpulan Emak2 Blogger) di Jakarta ada kembali setelah vakum sekian purnama. Tema traveling dipilih setelah mendapat usul dari para member KEB. Sebagai narasumber, KEB mengundang Marischka Prudence atau biasa dipanggil Prue. Semoga arisan ilmu bisa diadakan tiap bulan. Amin.

Saat tahu narasumbernya adalah Prue, saya langsung mendaftar. Prue termasuk idola saya di dunia traveler apalagi ia suka diving. Melihat IG feed @marischkaprue ga bakal bosan. Tiap fotonya enak dilihat dan niat banget, salah satunya di bawah ini. Dia bawa floaties gede berbagai bentuk juga float kecil, fin pink, dan monofin ke Pulo Cinta! Meski floaties bisa dikempeskan, sebelum pemotretan perlu dipompa dulu, kan. Katanya floaties ini memenuhi setengah koper sendiri. Demi property dan menghasilkan foto yang indah serta beda memang harus niat!

Niat banget bawa segini banyak floaties buat foto-foto (pic: instagram @marishckaprue)

Siapa Saja Bisa Menjadi Travel Blogger

Secara ringkas travel blogger berarti orang yang menuliskan catatan, jurnal, atau laporan perjalanan di blog untuk berbagi informasi atau opini suatu tempat. Siapa saja bisa menjadi travel blogger. Blognya bisa fokus membahas traveling atau kombinasi dengan topik lain seperti food, parenting, atau lifestyle.

Penulisan artikel di blog melalui 4 proses berikut ini:

  • Planning: sebelum traveling, penulis membuat rencana tujuan wisata serta hal yang dilakukan di sana.
  • Hunting: Selama traveling, penulis mencari dan menggali data sebagai bahan tulisan. Jangan lupa untuk banyak memotret sebagai bahan pendukung tulisan. Foto juga sebagai pengingat kejadian unik dan berkesan di suatu tempat. Buat kangen-kangenan gitu deh…

Untuk mendapatkan 1 foto yang bagus, Prue bisa memotret 10x. Kadang harus kembali ke suatu tempat di waktu yang berbeda supaya mendapat foto dengan feel yang beda, apalagi jika tempatnya ramai pengunjung sehingga sulit mencari spot foto yang menarik.

  • Writing: Saat menulis artikel, tentukan fokus cerita. Bagi menjadi tema spesifik dan beri penekanan pada sudut pandang atas tema. Misal membahas mengenai kuliner Jakarta seperti kerak telor. Tema ini bisa dikembangkan dengan menceritakan sejarah kerak telor, cara pembuatan, masukkan unsur budaya Betawi, juga bandingkan dengan kuliner serupa di daerah lain.
  • Editing: Self-editing dilakukan penulis dengan membaca dan memperbaiki tulisan berulang kali sebelum akhirnya menayangkan artikelnya.

    Satu tempat wisata dikembangkan menjadi banyak cerita

Bangun dan Rawat Blog Seperti Perusahaan Sendiri

Memiliki blog itu seperti memiliki perusahaan atau toko sendiri. Saat mulai berdiri, pikirkan toko ini akan diisi dengan apa. Apakah cerita seputar traveling, kuliner, dll. Bisa juga lebih spesifik seperti wisata di negara atau provinsi tertentu. Hal ini juga akan menentukan nama blog, seperti pergidulu.com milik pasangan traveler Susan dan Adam. Setiap hendak pergi liburan, mereka berkata, “Pergi dulu, ya.” yang menjadi inspirasi penamaan blog.

Toko juga perlu didesain. Mau tampak clean dengan background putih atau warna lain. Terserah saja selama nyaman dibaca dan membuat betah pengunjung.

Dan yang terakhir, sebagai toko juga perlu promosi. Cara paling mudah (dan murah) dengan berbagi tulisan melalui media sosial. Manfaatkan Facebook, Instagram, Twitter, Path, dll. Prue awalnya aktif di twitter tapi kini lebih sering memakai instagram.

Blog sebagai media personal branding maka harus dirawat dengan baik. Perhatikan etika menulis karena apa yang ditulis di sana mencerminkan diri si penulis. Saat kesal atau kecewa dengan suatu tempat wisata, sebaiknya menahan diri. Jangan langsung menumpahkan kekesalan di blog karena dapat menjadi bumerang diri. Tunggu hingga emosi mereda dan bisa berpikir dengan lebih jernih.

Tidah Harus Mengikuti Kaidah 5W + 1H

Membangun alur cerita dalam suatu tulisan tidak harus memenuhi 5W dan 1H alias what, who, where, when, why, dan how. Penulis bisa fokus memilih ingin berbagi mengenai hal tertentu atau hal yang paling berkesan dari suatu perjalanan. Misalkan di Dufan ngobrol dengan petugas yang bekerja di sana. Profil orang tersebut dapat dituliskan menjadi satu artikel sendiri.

Penulisannya pun tidak perlu runut A-B-C. Prue mencontohkan pada tulisannya mengenai pengalaman bungee jumping. Paragraf awal menceritakan perasaannya yang tak karuan saat berdiri di ujung papan sebelum melompat. Pembaca akan terbawa emosi seperti berada dalam posisi Prue dan tertarik membaca lebih lanjut.

Di samping itu, gaya penulisan artikel di blog cenderung lebih santai dan tidak baku. Lihat saja blog cumilebay.com yang berwarna-warni dengan banyak hashtag. Setiap artikel selalu banjir ratusan komentar. #RIPCumilebay

Sama Tempat, Beda Orang, Beda Rasa

“Apa yang kamu pikirkan saat melihat foto ini?”, tanya Prue sambil menampilkan foto pemandangan gunung yang dikelilingi awan. Beberapa emak menjawab dengan penjelasan berbeda-beda. Dari situ disimpulkan bahwa beberapa orang melihat satu foto yang sama namun merasakan hal berbeda.

Rasa, unsur ini yang membedakan satu orang dengan orang lain maka masukkan unsur rasa pada tulisan. Banyak orang berkunjung ke satu destinasi yang sama tetapi pengalaman tiap orang akan berbeda.

Masukkan unsur rasa dalam tulisan – Marischka Prue

Contohnya pakai pengalaman saya sendiri aja ya, hehe. Desember 2012 saya menghabiskan pergantian tahun di sebuah pulau kecil di Togean, Sulawesi Tengah. Malam itu saya dan teman-teman diajak bergabung bersama penduduk lokal merayakan tahun baru dengan menari dero (tarian tradisional Poso) dan pesta kembang api yang sangat meriah. Sungguh menjadi pengalaman tahun baru yang tak terlupakan padahal kami di pulau kecil yang listrik saja hanya ada di malam hari. Baca ceritanya di “A Year in Heaven Called Togean”.

Selain rasa, gaya menulis tiap orang berbeda-beda. Pemilik blog marischka-prudence.com ini menyarankan untuk menulis pengalaman traveling sesuai personality dan style masing-masing. Munculkan keunikan, jangan ragu untuk menulis, dan berbagi tulisan. Jangan khawatir takut sepi pembaca karena ada saja segmen pembaca yang cocok. Supaya banyak yang tahu, share juga ke media sosial.

Bagaimana bila berkali-kali ke tempat yang sama? Apakah hanya menulis 1 kali saja atau tiap belibur selalu menulis artikel baru?

Berkunjung ke satu tempat wisata bisa menghasilkan banyak cerita. Bahkan berulang kali ke tempat yang sama bisa mendapatkan cerita berbeda. Ada yang tentang itinerary, hal yang bisa dilakukan di tempat wisata tersebut, profil orang yang ditemui di sana, sejarah mendalam tempat tersebut, dan lain sebagainya.

Arisan ilmu bertabur doorprize (saya belum dapat, Mak!)

Mendengar penjabaran wanita kelahiran Bandung ini, saya menyadari travel blog Myfoottrip banyak kekurangan. Saya ingin menulis kembali pengalaman traveling dengan lebih fokus dan membagi cerita liburan ke dalam beberapa artikel. Selama ini tulisan di Myfoottrip kebanyakan terpaku pada itinerary dan things to do (efek saya suka banget menyusun rencana perjalanan dengan detail). Skill menulis perlu terus diasah supaya tulisan makin menarik dan bermanfaat untuk pembaca (semoga ada yang mampir ke Myfoottrip).

By the way, penjelasan Prue tidak hanya sampai di situ. Topik berikutnya yang membuat semangat nge-blog makin membara yaitu cara travel blogger mendapatkan penghasilan. Hmm, berapa sih gaji seorang travel blogger? Baca di Dibayar untuk Liburan, Siapa yang Tak Ingin Jadi Travel Blogger? (Bagian 2)

« »

© 2017 My Foottrip. Theme by Anders Norén.