Tamu – Tamu Couchsurfer

Tamu – Tamu Couchsurfer

Desember ini kedatangan banyak tamu yang sedang berlibur di Palu. Untuk pertama kalinya saya jadi host di kamar alakadarnya yang sarung bantal aja pinjam ke kamar sebelah. Awalnya agak aneh karena saya biasa tinggal sendiri, kalau yang ini tiap pulang kerja sudah ada yang menunggu. Berkenalan dengan mereka menambah energi positif saya tentang menjalani kehidupan. Dua couchsurfers yang sempat tinggal dengan saya ini benar-benar menikmati hidup.

===

Image
Jumping on Matantimali

Normalnya perjalanan Toraja – Palu itu 24 jam, tapi Iva melaluinya selama 36 jam naik bus karena jalanan banjir dan rusak. Untunglah ia ditemani Neil, warga lokal yang kebetulan berlibur di Toraja. Setelah mendapat gelar master, Iva dari Czech Republic menempuh perjalanan setengah globe untuk liburan ke Indonesia. Ia memanfaatkan visa 60 hari untuk berkeliling pulau Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi. Waktu ia melihat peta Indonesia di kamar, ia berkata, “Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau. Kalau 1 hari ke 1 pulau kemudian besoknya pindah ke pulau lain membutuhkan waktu sekitar 46 tahun untuk berkeliling Indonesia.”. Pernyataan ini membuat saya sebagai warga lokal merasa begitu beruntung sekaligus bingung, lama juga ya 46 tahun.

Snorkeling merupakan hal baru baginya saat ia bekerja dalam kapal di Spanyol. Seketika ia takjub melihat ikan bergerombol di dekatnya. Saat ke Pantai Tanjung Karang Iva sangat bersemangat melihat beningnya air di sana. Tujuan utama dia ke Palu dan membatalkan untuk ke Poso adalah mencoba terbang dengan paralayang. Sepanjang di udara Iva tersenyum lebar tanpa gugup sedikitpun. Sebagai kenang-kenangan sebelum ia melanjutkan perjalanan, Iva membuatkan balon berbentuk bunga. What a surprise!

===

Image
Duduk manis di depan rumah raja – Sau Raja

Dua bulan bekerja sebagai pustakawan di Timika, Papua membuat Friska makin mencintai anak-anak. Siswa di sekolah yang sering bermain ke perpustakaan yang dikelolanya suka bergurau “tes tes to”. Mumpung ada waktu 3 minggu libur semester, Friska langsung tancap gas buat keliling Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Tujuannya kali ini mempelajari sejarah dan budaya suku asli yang memang menjadi kesukaannya. Sebenarnya Friska tidak begitu suka wisata laut, tetapi ia tidak bisa menolak godaan untuk berenang di Pantai Tanjung Karang dan TN Togean.

Tantangan transportasi ke tempat wisata pun tak menjadi masalah. Kalau tidak ada angkutan umum maka ia mencari tumpangan kendaraan yang searah alias hitchhike. Pesan positif yang ia bagi adalah bila dalam perjalanan ada suatu hambatan maka janganlah hal itu membuatmu tidak bersemangat melanjutkan jalan-jalan. Buat Friska, semoga ada kesempatan lagi untuk mencoba paralayang, berenang bersama ubur-ubur di Danau Mariona, dan pergi ke Tibet!

6 thoughts on “Tamu – Tamu Couchsurfer

  1. Wah rumahmu terbuka utk para couchsurfers ya mbak :). Kalo ada 1 kamar kosong di rumahku, jg pgn ih ngejadiin sebagai kamar tamu gini. Aku sendiri tiap traveling blm prnh pake jasa couchsurfing sih.. Suami yg ga mau.. Lbh seneng milih hotel dianya -_-.

    1. Aku suka pakai couchsurfing supaya bisa traveling sambil mempelajari budaya daerah tersebut langsung dari locals. Kalau mau privacy memang lebih nyaman di hotel. Bisa juga cuma hangout aja, ga harus nginep di tempat CS

  2. wow keren mbak. Oh iya kalau untuk cowok gimana?
    Wah saya kepingin banget deh jalan-jalan keliling Indonesia. Banyak hal yang ingin saya temui di seluruh Indonesia.
    oh iya mbak kalau kebetulan cari tips fotografi mampir juga dong ke blog saya
    di gariswarnafoto[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: