Tamu Foottrip: Chrystoulette

Tamu Foottrip: Chrystoulette

Chrystoulette menjadi tamu paling nyentrik yang pernah saya terima. Sudah dua tahun ini dia hidup nomaden berkeliling dunia sendiri. Sebagai seorang cewek, dia tergolong berani. Pertama kali bertemu dengannya, saya takjub. Badannya tinggi besar, berkulit gelap, dan rambutnya setengah dicukur (susah dijelaskan dengan kata-kata). Chrys memiliki darah Eropa-Afrika dari orang tuanya. Sekilas tubuhnya memang sangar namun dia sangat ramah saat menceritakan asal-usulnya.

chrys_foottrip (1)
Chrys is on the stage

Saat ada gathering penyuka traveling, saya dan Chrys ikut. Lokasinya di Kafe jalan Juanda. Senangnya memiliki teman dari daerah dan negara lain, kami bisa bertukar cerita tentang daerah masing-masing. Kalau di Swiss, gaji tinggi namun biaya hidup juga tinggi. Bahkan dirinya sendiri yang asli Swiss jarang untuk berlibur di dalam negaranya. Dia lebih memilih ke negara tetangga yang lebih terjangkau. Berhubung Swiss dikelilingi daratan, main ke negara sebelah gampang. Beda dengan Indonesia, harus berenang dulu. Makin malam kafe ini makin ramai apalagi ditambah dengan live music. Chrys ditantang untuk menyanyi di panggung. Siapa sangka ternyata dia jago menyanyi sambil bermain gitar. Suara merdunya melantunkan Torn dari Natalie Imbruglia.

Esok paginya kami mau ke Pantai Tanjung Karang, YES! Orang bule harus tahu isi lautan Indonesia yang kaya raya, kan di negaranya susah cari yang seperti ini. Waktu packing, tasnya jebol. Tas ini sudah menemani dia selama backpacking. Daripada nantinya dia berakhir dengan menenteng baju-baju di tas kresek, saya menyarankan dia segera mencari backpack yang kuat dan awet. Nah kalau beli di toko khawatir bakal dimahalin karena dia bule, saya buka saja website online shop ZALORA yang terpercaya dan bisa segera mengirim pesanan. Apalagi dia tidak punya banyak waktu di Indonesia karena masa berlaku visa tinggal 2 minggu lagi.

chrys_foottrip (2)
on the way to the beach

Urusan tas selesai, kami berangkat ke pantai. Chrys membonceng saya naik motor. Selama perjalanan dia berulang kali bertanya, “Kurang berapa kilometer lagi?”. Walau nekat tanpa SIM, dia ngebut sampai membuat saya ketakutan. Sampai di Tanjung Karang, kami langsung snorkeling menikmati indahnya dunia bawah laut. Tentu saja dia terkagum-kagum dengan pantai yang bening dan warna-warni terumbu karang di Pantai Tanjung Karang. Sebagai orang Indonesia saya begitu bangga bisa mengenalkan kekayaan Indonesia ke turis asing seperti Chrys.

chrys_foottrip (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: