My Foottrip

Helena's journey to here and there

Sepotong Surga di Sulawesi Tengah

Heaven on earth without spending thousands dollars? Visit Indonesia. Dana terbatas dan waktu yang singkat tak jadi masalah bila berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah.  Ada apa saja di sana?

Paragliding_Matantimali

Pagi yang cerah dan angin berhembus lembut, ini saat yang tepat untuk terbang dengan paralayang dari Desa Wayu yang terletak di ketinggian sekitar 800 meter dpl. Jalan yang berliku-liku dan menanjak membuat perjalanan menjadi semakin menantang. Wayu dapat dicapai menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya dengan pengemudi yang berpengalaman, atau menumpang mobil bak terbuka milik tim Maleo Paragliding. Yap, instruktur dari Maleo yang akan memandu selama melayang di udara. Sulawesi Tengah memiliki lokasi terbaik untuk paralayang di Indonesia. Pemandangan kota Palu dengan teluknya terhampar luas di depan mata. Paralayang, atau dalam bahasa Inggris disebut Paragliding, adalah olahraga terbang bebas menggunakan parasut dan memanfaatkan angin sebagai daya angkat. Untuk itu diperlukan lahan yang luas di ketinggian sebagai tempat take off. Waktu yang paling tepat untuk paralayang adalah saat musim kemarau. Untunglah di Palu ini lebih sering panas dibanding hujan. Cuaca ini mendukung untuk bermain paralayang.

Keamanan selalu menjadi nomor satu. Helm, harness, dan parasut harus terpasang dan berfungsi dengan baik. Tidak lupa parasut cadangan. Untuk yang tidak memiliki lisensi alias SIM terbang, bisa terbang tandem dengan instruktur. Sebelum terbang, instruktur akan memberikan pengarahan cara take off dan landing yang benar. Sebaiknya memakai sepatu kets untuk memudahkan saat lepas landas dan mendarat. Bawa kamera atau handycam untuk merekam panorama Palu dari ketinggian dan juga untuk self portrait dari udara. Lokasi pendaratan ada di lapangan Desa Porame. Saat mendarat, kaki terus bergerak seperti sedang berlari dan tetap rileks. Hal ini untuk meredam momentum sehingga badan seimbang. Bagaimana rasanya 10-20 menit terbang bebas seperti burung? Coba sendiri sensasinya.

Puas melayang di udara, kini saatnya bermain air di Donggala. Jalan Trans Palu – Donggala yang khas berkelok-kelok dengan pemandangan laut yang membiru membuat satu jam perjalanan tidak terasa. Hati-hati berkendara melewati perkampungan penduduk. Hewan ternak seperti ayam, kambing, dan sapi sering berkeliaran dan menyeberang dengan tiba-tiba. Di pinggir jalan Palu – Donggala, nelayan menggantung hasil tangkapan hari itu. Ada ikan dan cumi-cumi yang panjangnya bisa mencapai 30 cm fresh from the sea. Bila sedang berbuah, penduduk lokal menggelar dagangan di depan rumah seperti mangga, pisang, dan pepaya. Suatu bentuk pasar yang sangat tradisional. Donggala juga terkenal dengan kain tenunnya. Home industry kain tenun ada di jalan menuju Tanjung Karang. Corak yang khas dan alat tenun yang sederhana menjadikan kain tenun Donggala sebagai cinderamata yang sebaiknya tidak dilewatkan. Karena beli langsung dari produsennya, harga kain masih bisa ditawar dan jauh lebih murah dibanding yang dijual di toko-toko di Kota Palu.

tanjung karang donggala (1)Donggala yang dikenal dengan sebutan kota niaga memiliki potensi bisnis dari sumber daya alam hingga pariwisata. Untuk mengakomodasi perputaran uang masyarakatnya, didirikan BNI kantor layanan Donggala sejak 5 Juli 1994. Bagi wisatawan yang kekurangan uang tunai atau ingin membeli oleh-oleh khas Sulawesi Tengah dapat menarik uang tunai di ATM BNI KLN Donggala.

Tiba di Pantai Tanjung Karang, pasir putih dan air laut yang biru jernih telah menanti. Pantai ini terletak di Donggala, 34 km dari kota Palu. Bagi pecinta snorkeling dan diving, inilah surganya. Dengan ketinggian air setinggi pinggang saja mudah melihat ikan berenang di sekitar kaki. Sesuai namanya, Tanjung Karang memiliki koleksi terumbu karang yang begitu luas. Saat berenang jangan sampai menginjak terumbu karang karena biota ini sangat rapuh.

Pantai ini ramai dikunjungi wisatawan lokal terutama hari Minggu untuk snorkeling, berenang (dikenal dengan istilah “mandi laut”), atau sekedar duduk santai menikmati pemandangan laut sambil makan pisang goreng. Sedangkan sebagian besar wisatawan asing berkunjung untuk menyelam di beberapa spot yang harus dijangkau dengan kapal kecil.  Bagi Anda yang tertarik menyelam atau mengambil sertifikasi menyelam, Prince John Dive Resort menyediakan fasilitas tersebut. Inilah resort terbaik di Pantai Tanjung Karang. Pemiliknya seorang kebangsaan Jerman. Pengunjungnya juga sebagian besar turis asing. Ada harga, ada rupa. Tarifnya dalam Euro atau Dollar. Saat ini BNI sedang membangun kerjasama dengan resort ini untuk pemasangan mesin EDC sehingga memudahkan pengunjung dalam melakukan pembayaran. Berbeda dengan cottage yang dimiliki dan dikelola warga lokal. Sewa tempat untuk sehari atau menginap, tarifnya sekitar Rp 100.000,- hingga Rp 300.000,- dengan fasilitas kamar tidur dan kamar mandi dalam. Pengalaman saya menginap, listrik dan air tawar terbatas pada jam-jam tertentu.

tanjung karang donggala (9) Tempat ini berbeda dengan pantai-pantai di Bali yang dipenuhi toko dan tour and travel agent. Tanjung Karang masih perawan. Warga lokal mengelola seadanya, salah satunya dengan mendirikan tenda-tenda untuk berteduh yang disewakan dengan harga Rp 20.000,- hingga Rp 50.000,-, bergantung banyak tidaknya pengunjung. Tenda ini beralaskan tikar dan akan digulung kalau air laut pasang supaya tidak menggenangi tenda. Kacamata renang dan ban pelampung juga disewakan seharga Rp 10.000,-. Taksi wisata alias kapal dengan glass bottom tersedia bagi anda yang mau melihat keindahan laut tanpa perlu berbasah-basahan. Harga sewa kapal sekitar Rp 50.000,- dan dapat memuat 10 – 15 orang. Jangan segan untuk menawar.

Kegiatan favorit saya di sini yaitu snorkeling bersama White Dolphin, komunitas snorkeling dan free diving di Palu. Mengikuti schools of fish yang mondar-mandir bergerombol membuat lupa daratan. Berbekal kacamata renang dan sepatu katak, saya menemukan dunia bawah laut yang mempesona. Ikan badut, kuda laut, bintang laut, ikan kakak tua, kerapu macan yang berharga tinggi, hingga ular laut pernah saya temui di sini. Begitu tenang menyaksikan parade berbagai macam hewan laut. Saya sempat bertemu dengan ubur-ubur yang berenang santai di dekat saya. Feels like I’m watching jelly fish on SpongeBob cartoon. Bawalah biskuit atau remah-remah roti dalam plastik untuk makanan ikan. Mereka dengan senang hati berebut makanan tanpa merasa takut pada manusia.

*dimuat dalam Majalah Sinergi 46 (internal magazine of BNI) tahun 2013*

=====

NB:

Berangkat dari mau mengenalkan potensi wisata Indonesia (plus sifat yang suka pamer :p) jadilah saya mencoba menulis satu artikel tentang wisata di Sulawesi Tengah, khususnya daerah sekitar Sigi, Palu, dan Donggala untuk dikirim ke majalah internal kantor. Menunggu sekian waktu, alhamdulillah artikel saya dimuat (setelah edit sana-sini). Senang banget keindahan tempat saya bekerja (dan bermain) bisa diketahui banyak orang, meski scope-nya masih internal kantor.

Bahagianya triple loh, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah!
Artikel newbie dimuat di majalah dan semoga dinikmati dan dimupengi para pembaca
Dapat honor pertama dari menulis! Yeaaay!
dan yang menakjubkan, diundang ikutan workshop jurnalis internal di Jakarta (hihi..maklum tinggal di luar jawa jadi norak)

alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah

« »

© 2017 My Foottrip. Theme by Anders Norén.