Perjalanan Spiritual

Perjalanan Spiritual

foottrip religiSatu hal yang membuat saya kembali bersemangat dalam perjalanan bila menemukan masjid atau mushola. Selain menunaikan kewajiban lima waktu, saya dapat merasakan segarnya air wudhu dan leyeh-leyeh sejenak dalam tempat ibadah.

Kalau perjalanan jauh di daerah Jawa, tempat ibadah ini mudah ditemukan. Apalagi tiap kota memiliki masjid besar yang biasa disebut masjid agung atau masjid jami’. Dengan interior megah dan nyaman, semakin betah saya ngadem di dalamnya. Kalaupun tidak ada, hampir di tiap SPBU pantura menyediakan fasilitas mushola. Sekedar singgah untuk beribadah pun tak apa, tidak harus mengisi BBM.

Hal ini berbeda saat saya di Sulawesi. Menempuh perjalanan ratusan kilometer melewati beberapa desa atau menembus semak-semak. Saat ada masjid atau mushola, hati ini luar biasa bersyukur. Tidak perlu tayamum dan solat di dalam kendaraan. Sambil beristirahat, saya tak lupa memotret papan nama tempat ibadah tersebut karena tercantum pula nama desanya. Foto itu sebagai kenangan: yeah I have been there! Meski ada masjid, tidak semuanya memiliki aliran air yang lancar. Ada satu tempat di mana listrik di daerah tersebut hanya ada saat malam sehingga pompa air tidak berfungsi. Jadilah penduduk desa tersebut mengambil wudhu di sungai belakang rumah. Di sungai itu pula mereka mandi dan buang air. Sudahlah jangan dibayangkan, airnya memang segar. Bismillah air wudhu ini bersih ya. Selain itu yang paling sering saya jumpai tidak tersedianya mukena atau alat solat untuk perempuan. Bersiaplah dengan mukena pribadi. Menurut penduduk setempat, kalau ada sumbangan mukena seringnya dibawa pulang oleh para jama’ah. Hmm..dianggap milik pribadi nih.

“Idealnya, pecinta alam itu lebih dekat dengan Sang Pencipta Alam” – Imamudin

Saat sekelompok teman saya yang sering mbolang hendak berkunjung ke Sulawesi, saya ingatkan mereka untuk tidak menginap di masjid. Demi menghemat biaya, masjid memang menjadi tujuan merebahkan diri. Acap kali saya temui masjid di Sulawesi tidak terbuka 24 jam. Setelah sholat isya pagar sudah dikunci dan menjelang sholat subuh pagar baru dibuka. Berbeda dengan di Jawa. Waktu kecil saya pernah mengikuti wisata religi bersama orang tua. Naik bis overland dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Kalau tidak mendapat penginapan, kami tidur di masjid bersama rombongan lain. Saya ingat betul tidur di istiqlal, masjid termegah saat itu. Pernah pula saya dan tiga teman lainnya menginap di Pulau Beras Basah, Bontang. Awalnya kami berniat tidur di pinggir pantai beralaskan meja kayu. Syukurlah penjaga pulau berbaik hati mengizinkan kami menginap di mushola yang sedang dibangun. Bekas baliho memang tidak nyaman dijadikan alas tidur namun kami terlindung dari angin dingin bila tidur di pinggir pantai. Menurut tukang bangunan mushola, saya menjadi orang pertama yang sholat di mushola itu (siapa juga yang bakal sholat di tempat dengan banyak bahan bangunan kalau tidak kepepet, hehe).

Perasaan lega bisa tetap menjalankan ibadah di tengah perjalanan jauh memberikan rasa syukur tersendiri. Bahkan solat menjadi lebih khusyuk saat bisa beribadah di rumah Allah, apalagi kalau bisa berjama’ah dengan penduduk lokal. Saya memang belum pernah mengunjungi Ka’bah atau Masjid Nabawi namun setiap perjalanan ini seperti perjalanan spiritual untuk semakin mendekatkan diri pada Pencipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: