My Foottrip

Helena's journey to here and there

Menikmati Keragaman Indonesia dalam Harmoni di Pameran Senandung Ibu Pertiwi

Mataku lekat memandang deburan ombak ganas di lautan. Satu, dua, tiga… aku menghitung para peselancar yang menantang tingginya ombak sambil berdoa mereka selamat. Gambaran di depanku tampak begitu nyata sampai-sampai aku lupa yang kupandang hanyalah lukisan berjudul “Gelombang Laut”. Lukisan karya Wilhelmus Jean Frederic Imandt ini menjadi satu dari 48 lukisan yang dipamerkan dalam “Senandung Ibu Pertiwi”.

Gelombang Laut karya Wilhelmus Jean Frederic Imandt

Rabu, 9 Agustus 2017, saya berjalan dari Halte Busway Gambir menuju Galeri Nasional. Letak galeri ini tepat di seberang Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Di sana saya berjumpa dengan beberapa teman yang sudah janjian untuk menghadiri pameran lukisan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi.

Jarang-jarang nih Myfoottrip main ke galeri seni. Saya sendiri penasaran dengan koleksi lukisan yang dipamerkan karena ini adalah 48 karya yang selama ini menghiasi istana kepresidenan RI. Kalau belum bisa masuk istana, at least bisa menikmati lukisannya dulu deh.

Ini kali kedua Kementrian Sekretariat Negara mengadakan pameran tersebut dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. Pameran ini terbuka untuk umum selama 2-30 Agustus 2017 dan pengunjung bisa menikmatinya dengan gratis. Syaratnya mudah, kok. Registrasi online di bit.ly/bek-id2 atau lewat aplikasi di Android bit.ly/bek-id. Bisa juga langsung datang ke bagian media center Galeri Nasional untuk registrasi on the spot. Saran saya lebih baik registrasi via online supaya tidak perlu mengantri lama, terutama saat weekend.

Pilih waktu kunjungan ke Galeri Nasional melalui registrasi online

atau registrasi offline di bagian media center

Sebelum masuk ke ruang pamer, perhatikan aturan yang berlaku. Aturan ini berguna untuk menjaga kenyamanan dan keamanan selama kunjungan. Selama di area pameran hanya boleh memotret menggunakan kamera handphone. Untungnya saya sudah membaca informasi ini di JadiMandiri sehingga barang bawaan tidak terlalu banyak.

Patuhi aturan yang berlaku

Menitipkan ransel di tempat penitipan barang, sudah. Mendapat cap di tangan sebagai bukti pengunjung, sudah. Eits, sebelum masuk gedung A Galeri Nasional harus melewati pemeriksaan metal detector. Saya aman dan tidak berbahaya, Pak.

Di dalam ruang pameran, pengunjung dibawa memasuki ruangan dengan 4 tema besar yang menggambarkan keragaman tanah air Indonesia yaitu: pemandangan alam, dinamika keseharian, tradisi dan identitas, serta mitologi dan religi. Tiap tema diberi tanda warna dinding yang berbeda-beda, misal tradisi dengan dinding biru sedangkan mitologi dengan dinding abu-abu.

Di sebelah kiri pintu masuk terdapat lukisan pertama yang tampil dalam bentuk digital (diproyeksikan memakai LCD). Lukisan bertema perkawinan adat Rusia ini tidak dibawa ke ruang pameran karena ukurannya yang besar dengan panjang 5 meter. Lukisan karya Konstantin Egorovich Makovsky ini kini terpajang rapi di Ruang Kerja Presiden, Istana Bogor.

Di area “Pemandangan Alam” terdapat berbagai lukisan yang mencerminkan keragaman hayati di Indonesia dari Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, maupun Nusa Tenggara. Indonesia dihiasi gunung hingga pantai dengan pemandangan menawan.

Selain “Gelombang Laut” yang memukau, saya tertarik dengan “Pantai di Flores” karya Basuki Abdullah. Uniknya sang perupa belum pernah sekalipun ke Flores ketika melukis pemandangan indah tersebut. Basuki hanya menyalin dari lukisan cat air yang dibuat oleh Presiden Soekarno, tentunya atas perintah dari presiden. Bung Karno mengabadikan memori ketika ia diasingkan di Flores dalam sebuah lukisan.

Pemandu menjelaskan kisah unik dibalik lukisan Pantai di Flores karya Basuki Abdullah

Langkah saya berlanjut ke area “Dinamika Keseharian” yang menceritakan aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia, utamanya sebagai petani dan nelayan. Tanah air tercinta ini memiliki kekayaan alam yang melimpah sehingga masyarakatnya menggantungkan hidup dari bercocok tanam maupun mengail ikan di laut. Namun, kedua pekerjaan ini semakin terpinggirkan di zaman serba modern seperti sekarang. Padahal tak bisa dipungkiri tugas petani dan nelayan begitu mulia untuk memenuhi kebutuhan pangan kita. Lukisan-lukisan ini seperti berbicara kepada saya untuk lebih menghargai para petani dan nelayan.

Di antara deretan lukisan keseharian, ada satu yang menarik hati. Nampak seorang penjual sate sedang mengipas-ngipas sate dengan kipas khas dari anyaman bambu. Ia menggunakan pikulan untuk menjajakan dagangannya. Uniknya, wajah penjual sate tersebut digambarkan sebagai etnis Tionghoa. Di kanan lukisan juga terdapat tulisan berbahasa Mandarin layaknya lukisan dari Cina. Rupanya “Pendjual Sate” ini dilukis oleh Lee Man Fong. Beliau tertarik dengan penjual sate di Indonesia tetapi menampilkannya dengan gaya lukisan dari Cina.

Pendjual Sate bernuansa Indonesia tetapi dengan gaya khas lukisan Cina. (sumber: katalog SIP)

Ruang “Tradisi dan Identitas” didominasi berbagai lukisan wanita dalam kebaya. Kebaya merupakan pakaian yang telah menjadi tradisi di Indonesia sejak dulu kala. Wanita berkebaya menjadi identitas wanita yang anggun dan santun. Model kebaya di tiap daerah cenderung sama, bedanya di bagian warna. Contohnya, Jogja yang identik dengan warna hijau digambarkan dalam “Wanita Yogya” karya Trubus Sudarsono. Sedangkan wanita pesisir di “Bakul Buah” berani menggunakan warna yang mentereng.

Di antara wanita-wanita tersebut, “Wanita Berkebaya Hijau” karya Thamdjidin lah yang menjadi perbincangan saya dan teman-teman yang berkunjung. Lukisan yang terletak di paling ujung ruangan ini nampak begitu nyata dan cantik… Parasnya anggun serta santun. Apakah ia nyata adanya?

Cantik dalam kebaya

Memasuki ruang “Mitologi”, pengunjung disuguhi dua lukisan besar, yaitu Gatot Kaca dan Nyai Roro Kidul. Antara terpukau dan terbayang cerita mistis, saya mengagumi goresan tangan Basoeki Abdullah yang menghadirkan sosok Nyai Roro Kidul dalam bentuk modern. Di sini Nyai digambarkan sebagai wanita berparas khas Jawa yang mengenakan gaun malam sutera dan kalung mutiara. Rambut panjangnya terurai dengan jemari tangan yang lentik.

Nyai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah

Kemudian di bagian “Spiritual dan Religi” terdapat lukisan “Madonna” yang memandang saya dengan gamblang. Seorang wanita memakai kebaya biru sedang menggendong anak laki-laki. Ia duduk di bangku berlatar pekarangan dengan seekor domba. Kepala wanita itu seperti dikelilingi oleh cahaya. Lukisan karya Sudarsono ini menggambarkan sosok Bunda Maria yang disebut juga Madonna.

Lukisan di area ini sebagian besar bertemakan Hindu dan Bali yang memiliki adat istiadat kental di Indonesia. Namun, di antara lukisan beraliran realism dan naturalism yang dipamerkan, terdapat pula dua lukisan abstrak. Salah satunya karya Abdul Djalil Pirous yang menceritakan waktu subuh yang syahdu. Lukisan ini menggunakan teknik serigrafi (menggunakan cetakan). Terdapat keterangan 22/70 yang artinya ini adalah cetakan ke-22 dari total 70 lukisan.

Subuh/Doa VIII (paling kiri) karya A. D. Pirous menggunakan teknik serigrafi

Sebelum menuju pintu keluar terdapat ruang pamer arsip. Di sini ditampilkan berbagai dokumentasi sehubungan dengan koleksi lukisan di istana. Ada peristiwa penting yang terjadi di tiap periode kepresidenan, notulen rapat, juga arsip proses restorasi lukisan untuk memperbaiki bagian yang retak maupun terkena jamur.

Di sini dijelaskan sebagian besar lukisan koleksi istana ini merupakan koleksi dari zaman Presiden Soekarno. Beliau memiliki jiwa seni yang tinggi dan suka mengoleksi lukisan. Berbagai cara beliau lakukan untuk mempercantik istana termasuk merogoh kocek sendiri. Bahkan Bung Karno pernah menemukan lukisan di gudang sebuah museum di Rusia yang kemudian ia boyong ke Indonesia.

Ruang arsip

Selain mengunjungi pameran lukisan, pengunjung juga dapat mengikuti beberapa kegiatan seperti:

  • Workshop melukis tas kanvas bersama komunitas difabel (10 Agustus 2017),
  • Diskusi para pakar: Menjaga Ibu Pertiwi (19 Agustus 2017),
  • Lomba lukis kolektif tingkat nasional (26 Agustus 2017),
  • Workshop menjadi apresiator seni terhebat se-jabodetabek (29 Agustus 2017), dan
  • Tur galeri setiap Sabtu dan Minggu pukul 10.00 WIB.

41 perupa yang hasil karyanya dipamerkan dalam Senandung Ibu Pertiwi

Saya pikir akan betah di sana sekitar 30 menit. Nyatanya butuh 60 menit lebih untuk menikmati lukisan hingga tema terakhir. Sepertinya “hanya” 48 lukisan tetapi untuk mengagumi dan memahami tiap lukisan butuh waktu yang lama. Apalagi beberapa lukisan memiliki detail yang sangat menarik dan butuh kejelian untuk menemukannya. Contohnya: menemukan peselancar dalam “Gelombang Laut”, rumah gadang dalam “Senja di Daratan Mahat”, juga Bung Karno dalam “Sambutan Rakjat Bali kepada Presiden Sukarno”.

Ga perlu khawatir akan kebingungan dengan koleksi lukisan. Selama berkeliling, ada banyak pemandu yang siap sedia menjelaskan lukisan yang dipamerkan. Ada pula aplikasi museum guide Calibre Indonesia. Unduh aplikasi Calibre Indonesia dari Google Play Store atau App Store kemudian pindai QR code pada daftar lukisan yang ingin diketahui. Daftar ini terletak di dekat pintu keluar.

*

Berkunjung ke pameran koleksi lukisan Senandung Ibu Pertiwi menjadi hal menarik untuk mengisi akhir pekan. Tertarik mengunjunginya? Ke #GalnasYuk! Ajak keluarga dan teman-teman menikmati keragaman Indonesia dalam harmoni di Pameran Senandung Ibu Pertiwi.

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat

(Jam buka 10.00 – 20.00 WIB)

www.galeri-nasional.or.id

« »

© 2017 My Foottrip. Theme by Anders Norén.