Makna Di Balik Tradisi Tumpeng di Indonesia

Dalam suatu perayaan di Indonesia, identik ditandai dengan acara potong tumpeng. Nasi tumpeng menjadi ciri khas layaknya kue tart di pesta ulang tahun. Bentuknya kerucut dengan ragam lauk mengelilinginya. Pernah terpikir kah mengapa harus kerucut? Mengapa seremoni perayaan menggunakan tumpeng? Ini lho makna di balik tradisi tumpeng di Indonesia.

Nasi Tumpeng Kismis Kolaborasi Indonesia – Amerika Serikat

Minggu, 14 Juli 2019 lalu di Kem Chicks, Pasific Place, Jakarta, tersaji nasi tumpeng bertabur kismis dalam perayaan 70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Amerika Serikat. Uniknya, pembuatan nasi kuning tumpeng ini menggunakan bahan-bahan dari kedua negara. Nah, kalau akur gini kan enak.

Pucuk nasi tumpeng dipotong oleh President Director Kem Chicks Irama Bidrianti dan diberikan pada Atase Pertanian dan Perdagangan Kedutaan Amerika Serikat Garrett McDonald. Sesuai tradisi tumpengan dimana bagian pertama yang dimakan dari tumpeng adalah pucuknya dan diberikan kepada orang yang dihormati. Selanjutnya, pengunjung Kem Chicks dapat menikmati bersama tumpeng dan aneka camilan yang tersaji. Wah, semuanya turut merayakan langgengnya hubungan diplomatik ini.

Selain pemotongan tumpeng, hari itu diadakan pula cooking demo oleh Chef Andy Hartono. Enggak tanggung-tanggung, 5 kilogram daging tomahawk (rib eye bertulang) dari Iowa, USA dipakai untuk memasak steak. Tekstur steak-nya empuk dan sausnya lezat!

Para undangan juga diajak berkeliling Kem Chicks. Supermarket premium ini menyajikan berbagai kebutuhan sehari-hari yang sangat berkualitas, baik produksi dalam maupun luar negeri. Melihat buah stroberi, blueberry, apel, anggur, duh dasar emak-emak ya naluri belanjanya langsung muncul. Kue-kuenya juga lucu. Trus, ada serbuk teh dalam berbagai varian. Baru aja mau cobain yang Cocoa Tea, eh udah dipanggil kawan.

Mengapa Nasi Tumpeng Berbentuk Kerucut

Balik lagi ke nasi tumpeng. Pernah terpikir, enggak, kok nasi tumpeng bentuknya kerucut? Mengapa enggak kubus atau balok aja? Hihi …. Jadi begini, bentuk kukusan nasi zaman dahulu itu berbentuk contong atau kerucut, kan. Setelah matang, nasi dibalik dan terbentuklah kerucut.

Makna kerucut ini seperti gunung Mahameru di India yang dalam kepercayaan Hindu dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Tumpeng dibuat sebagai simbol permohonan kepada Yang Kuasa, umumnya hadir dalam upacara penting.

Nasi tumpeng memang udah lama banget hadir dalam tradisi Indonesia bahkan tercatat dalam Serat Centhini, naskah sastra Ramayana, Arjuna Wijaya, dan Kidung Hasra Wijaya.

Kata tumpeng sendiri bermakna, “tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran” yang artinya “berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Tuhan”.

Nasi Tumpeng untuk Penyebaran Agama Islam

Lain Hindu, lain pula Islam. Tradisi tumpeng diadaptasi pula dalam penyebaran agama Islam di Jawa oleh Sunan Kalijaga. Tumpeng memiliki akronim “yen metu kudu sing mempeng” yang artinya bila keluar harus dengan sungguh-sungguh. Tumpeng menjadi simbol permohonan pertolongan pada Sang Pencipta agar terhindar dari keburukan dan mendapat kebaikan. Hal itu akan didapat bila kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

Dalam Islam, bentuk kerucut pada tumpeng dengan satu nasi di puncak melambangkan simbol Tuhan Yang Maha Esa. Beda, ya, dengan makna dari agama Hindu.

Oh ya, umumnya pucuk tumpeng dipotong kemudian diberikan pada orang yang paling penting atau paling dimuliakan diantara yang hadir. Namun, saya mendengar aturan bahwa puncak tumpeng jangan dipotong karena menyalahi filosofi tumpeng. Konon, itu karena analogi tumpeng seperti gunung Mahameru yang menjadi tempat para dewa. Kalau dipotong, berarti memutus hubungan manusia dengan Tuhan. Yang benar, yang mana, hmm ….

Apapun itu, tumpeng hingga kini melengkapi tradisi perayaan di Indonesia, khususnya Jawa. Mau terbuat dari nasi kuning, nasi putih, atau nasi uduk, tumpeng selalu menarik untuk dinikmati bersama. Lauk pauknya itu, lho, menggoda selera. Ada perkedel, abon, telur dadar, tempe orek, serundeng, urap, ikan asin, dan berbagai sayuran melengkapi meriahnya acara syukuran.

Kira-kira, tradisi nasi tumpeng bisa go internasional?

 

Baca juga:

Tips Liburan Bareng Pasangan

Klinik Gigi Ramah Anak

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Author: helenamantra

Love to share stories on helenamantra.com and myfoottrip.com

22 Thoughts

  1. Nasi tumpeng BISA BANGET go international dooong
    Pas di San Francisco, aku kan makan di resto Borobudur (jualan makanan Indonesia)
    Itu bule2 pada doyan nasi uduk yg dibentuk ala tumpeng mini.
    Dengan lauk pauk yg komplit bin endolita

  2. Aku belum pernah nyicipi nasi tumpeng yang pakai kismis, enak nggak sih?
    Kalo tumpengnya nggak boleh dipotong, trus ngambilnya dari bawah gitu ya… ntar roboh dong. Yang penting dinikmati aja tumpeng dengan lauknya yang komplit yaa

  3. Jadi tahu makna tumpeng mbak, ternyata mempunyai arti yang berbeda bila dilihat dari sudut pandang agama ya. Tapi kebiasaan kita setiap ada ceremony selalu yang pucuknya dipotong lalu diberikan kepada orang yang dituju, seperti pimpinan, yang sedang ulang tahun….bahkan saat pesta pernikahan adat Jawa saat kedua mempelai potong tumpeng justru yang pucuknya itu dipotong dan digunakan kedua mempelai saling suap….apapun itu tumpeng adalah simbul rasa syukur ya mbak.

  4. Kalau tidak boleh dipotong pucuk tumpengnya, lalu cara makannya gimana, Mbak? Ngambil nasi yang dari pinggirnya aja ya?
    Nasi tumpeng go internasional? Pasti bisa! Tinggal promosinya aja yang digencarkan hehehe

  5. Saya baru tahu mbak asal muasal disebut sebagai nasi tumpeng. Melihat tampilannya jadi pengen makan nasi tumpeng hehe. Uniknya kali ini bertabur kismis, rasanya gimana ya? Penasaran banget.

  6. aduh kalo sama nasi tumpeng mah aku doyan banget, mau pake nasi putih, kuning, merah atau ungu yang pake bunga telang. Palagi kalo sama ikan asin. yummy. Tapi pake steak ya enak juga dong

  7. Di kampungku masih umum ditemui Len, masak nasi pake kukusan kerucut. Terutama kalau lagi acara besar/hajatan.

    Dan menurutku nasinya jauuuh lebih enak, apalagi kalau masaknya pake tungku kayu bakar. Harum banget!

  8. Yen metu kudu sing mempeng.
    Ini kaya Ibu kalo nasehatin aku… “Nek sinau, sing mempeng too…ben cepet lulus.”
    Hhahaa..
    Ternyata makna tumpeng ini mashaAllah sekali yaa…
    Simbolisasi orang Jawa dengan segala falsafahnya.

  9. Kayaknya yang bener dikerok deh bawahnya. Tapi mbuh lbh banyak yg motong atasnya duluan hahaha. Tp pernah jg sih liat tumpeng dikerok dikit shg agak ambruk baru dipotong atasnya gtu. Coba nanyak pakar sejarah kuliner kalau kyk gini deh 😀

  10. Kemarin di Jember kami pada blogger kebagian makan nasi tumpeng juga. Tapi tumpengnya memang tidak dipotong selain bentuknya bukan kerucut penuh (disambung) juga karena di sekeliling tumpeng sudah tinggal ngambil satu porsi satu porsi nasi tumpeng beserta lauk pauk. Jadi pas yg tumpeng besarnya kami makan bersama diambil dari bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *