Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Ada satu keistimewaan saat naik kereta yang tidak didapat dari moda transportasi lainnya. Tidak becak, angkot, bis, bahkan pesawat. Hanya kereta yang dapat memberikan kejutan ini.

kereta lego
naik kereta api, tut..tut..tut..

Saat menggunakan kereta dari Jakarta ke Surabaya, kereta akan berhenti di beberapa stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Inilah saat yang mendebarkan bagi saya yang bepergian sendiri. Siapa yang akan duduk di sebelah saya selama perjalanan. Apakah dari stasiun awal atau stasiun selanjutnya? Atau kursi samping akan kosong hingga tiba di Surabaya?
Orang yang duduk di sebelah awalnya memang orang asing. Kita lah yang menentukan mau sekedar basa-basi atau cerita dapat berlanjut. Kita pun bisa memilih diam sepanjang perjalanan meski jadi canggung. Kadang saya lakukan kalau sangat mengantuk. Tak jarang pula saya membuka obrolan. Pertanyaan seperti mau kemana menjadi hal wajar. Dari iseng bertanya, topik dapat meluas ke pekerjaan, berita hangat, hobi hingga kehidupan pribadi. Begitulah bagaimana kereta mengubah kehidupan penumpangnya.
Saya percaya orang baik masih banyak namun tak ada salahnya waspada. Dari topik-topik yang dibahas terkadang timbul pertentangan atau pembatasan diri. Kita tidak bisa setuju ke semua orang kan. Keadaan seperti ini membuat saya tidak mau melanjutkan perbincangan dan memilih mengganti topik atau diam atau pergi ke lorong. Sekali lagi, ini istimewanya kereta. Saat ketidakcocokan timbul dengan penumpang sebelah, saya leluasa ke lorong atau gerbong lain atau ke restorasi. Kalau ada kursi kosong, duduk saja di situ.

Fenomena penumpang di samping ini mengingatkan saya akan kehidupan. Hidup ini bagaikan mengendarai kereta, dari titik lahir hingga akhir usia. Dalam perjalanan kita akan bertemu orang yang dekat dengan kita. Dari awal saling mengenal mempelajari sifat masing-masing.  Saat berinteraksi dalam keseharian, kita bisa sangat cocok dengan orang tersebut ataupun sebaliknya penuh konflik. Kita bisa mengambil keputusan bagaimana kelanjutan hubungan tersebut. Saat di tengah jalan tidak dicapai lagi kata sepakat, legawa lah untuk berpisah. Umur manusia pun rahasia. Penumpang di samping mungkin turun di stasiun lebih dahulu dari kita, pun sebaliknya.

Suatu waktu seorang pemuda duduk di samping saya. Kami berangkat dari stasiun yang sama dengan tujuan yang sama pula. Pembicaraan mengalir ke sana kemari dan makhluk asing ini menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Saya tidak sepenuhnya setuju pada pendapatnya akan suatu hal, begitu pula dia. Namun ada kecocokan yang membuat kami berjalan dari satu topik ke topik lain. Pendidikan, politik, kesehatan, kesejahteraan, agama, cita-cita, sepertinya kami telah membahas kehidupan. Saat ini kereta masih melaju ke kota tujuan, perjalanan masih panjang, bersamanya ~

Ditulis di Udara Indonesia, 25 June 2014, 20.19
Helenamantra

P.S. : kagum dengan PT KAI yang telah berbenah meningkatkan pelayanan. Reservasi tiket mudah, kereta bersih, pegawai professional, semakin tepat waktu.

2 thoughts on “Kereta Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: