Bukan Paus, Itu Ibu Hamil Snorkeling di Pulau Abang!

Snorkeling di Pulau Abang, Kepulauan Riau, menjadi salah satu wishlist yang tak ku sangka terwujud di tahun 2019. Dengan kondisi hamil 6 bulan, bumil pun menikmati surga bawah laut di dekat Batam tersebut.

snorkeling pulau abang batam
Bahagia belum ketemu ombak

Ibu Hamil Boleh Snorkeling?

Mumpung trimester 2, badan rasanya sedang sehat-sehatnya. Mual semakin jarang, makan terasa enak, dan maunya jalan-jalan. So, saya dan SID mendadak liburan ke Batam untuk bertemu sanak keluarga di sana.

Yang namanya sudah sampai di Batam, masa’ sih enggak sekalian snorkelling atau setidaknya ketemu pantai. Di Jakarta pantainya kan gitu aja, pilihan terbatas pada Ancol yang kalau akhir pekan seperti cendol. Maka, saya mencari referensi provider tour and travel di Batam untuk snorkelling ke teman-teman blogger di sana.

Teman-teman merekomendasikan kalau pantai banyak sepanjang jembatan Barelang sedangkan jika ingin snorkelling ya ke Pulau Abang, underwater-nya masih bagus. Namun, ketika menghubungi contact person trip ke Pulau Abang, orangnya menjawab, “Ibu hamil boleh ikut tetapi sebaiknya tidak snorkelling.”.

Ibu hamil boleh snorkeling apa enggak?

Mungkin jawaban orang tersebut ya demi keamanan bersama, kan. Tetapi setelah bertanya ke dokter kandungan, netizen, dan juga hati nurani, saya memantapkan diri untuk coba dulu lah snorkeling. Hal ini mengingat pengalaman terakhir snorkeling juga waktu hamil 5 bulan di Pulau Bawean. Waktu itu tour leader-nya sempat kaget, lha … bawa bumil?! Tapi alhamdulillah selama trip saya bisa bahagia menyelam kesana-kemari.

pantai di batam yang bagus
Santai di pantai setelah makan siang

Izin snorkelling paling susah justru datang dari si anak kicik, SID. Dia enggak mau ditinggal ibunya dari pagi sampai sore. Maklum sih, seumur hidup belum pernah ditinggal selama itu. Kalaupun saya pergi, biasanya SID bersama ayahnya. Nah ini dia bakal dijagain nenek dan saudaranya saja di tempat baru.

Baca juga: Bolehkah Ibu Hamil Makan Sambal?

Akan tetapi, saya nekad saja pergi. Di perjalanan masih bimbang, kalau nanti waktu pamit dia enggak mengizinkan yasudah saya enggak jadi menyeberang. Syukurlah begitu tiba di pelabuhan, saya izin ke SID untuk snorkelling sementara ia dan saudaranya akan main ke pantai, ia tidak menolak. Mungkin efek baru bangun tidur kali ya, hoho … (belakangan ini saya tahu alasan ia mau ditinggal karena diperbolehkan main HP neneknya, zzz ….)

Disambut Ombak (agak) Tinggi

Pukul 9 pagi kurang 5 menit, kami sampai di Pelabuhan PT. Pari, Jembatan 6 Barelang. Suasana masih sepi. Nampak satu kapal bersiap membawa penumpang untuk diving sedangkan satu perahu baru melaju ke pulau seberang.

Pelabuhan jembatan 6 Barelang ini menjadi meeting point one day trip Snorkeling ke Pulau Abang. Bentuk pelabuhan yang sederhana, jalan masuknya pun masih tanah. Saya, kakak, dan keponakan menunggu rombongan trip lain.

jembatan 6 barelang batam
Pelabuhan PT. Pari di jembatan 6 Barelang

Setelah semua peserta berkumpul, tour leader dari Galang Bahari mengajak kami naik perahu motor yang cukup untuk sekitar 12-15 orang. Kami menyeberang ke homestay di Pulau Nguan yang letaknya dekat pelabuhan, sekitar 5 menit.

Sampai di homestay yang merupakan rumah panggung di atas air, kami berganti pakaian renang, memilih sepatu karet yang pas, menggunakan life jacket, dan menyimpan tas di loker. Untuk sepatu, saya pikir semuanya bakal memakai fin (sepatu katak) tapi ternyata fin-nya terbatas. Pemandu bilang kalau enggak biasa pakai fin malah akan kesulitan jadi kebanyakan menggunakan sepatu karet. Sementara saya susah berenang maju tanpa sepatu katak. Untung aja ada sepasang sepatu katak ukuran 38 yang tersisa, walau agak kesempitan ya lumayan lah.

Baca juga: Snorkeling di Pulau Bawean Jawa Timur

Setelah briefing singkat mengenai trip hari ini, kami pun kembali naik ke perahu untuk menuju Pulau Abang. Saya enggak tahu seberapa jauh Pulau Abang dari Pulau Nguan, yang jelas perjalanan terasa begitu lama karena udah enggak sabar ingin nyemplung.

Di awal, tour guide sudah menginfokan kalau ombak agak tinggi, maka sah-sah aja jika ingin berteriak saat bertemu ombak. Dan … benarlah memang sepanjang perjalanan sekitar 30 menit tersebut kami disambut ombak berkali-kali. Awalnya saya teriak tiap ketemu ombak, lama-lama kok banyak ya, yaudah marilah berdamai dengan si ombak karena kata pepatah:

“Pelaut tangguh tidak lahir di laut yang tenang”

Snorkeling di Pulau Abang Antara Kagok dan Bahagia

Air, air, air, sepanjang mata memandang perahu motor kami dikelilingi air laut dengan riak ombak yang mengajak berdansa. Sinar matahari menyambut cerah perjalanan kami padahal kala itu sekitar Riau sedang dilanda kabut asap kebakaran hutan.

Ah, ku rindu menikmati alam semesta dalam diam seperti ini. Pikiran melayang menelusuri bawah laut di Bawean ketika ku sana pada 2014 silam. Lalu terbayang indahnya Tanjung Karang dan Togean yang menemani hari-hariku di perantauan.

Menyelami surga bawah laut Indonesia seperti candu, hampir tiap minggu diriku versi muda bermain ke pantai. Sejak memiliki anak, duniaku berubah. Bukan ku tak menyukainya namun terkadang perlu sedikit keluar dari rutinitas dan menikmati alam seperti saat ini, saat trip ke Pulau Abang.

Baca juga: Tahun Baru di Kepulauan Togean

Lamat-lamat segaris pantai berpasir putih nampak dari perahu. Kami semakin mendekat namun tidak terlalu dekat dari bibir pantai. Rombongan kami diminta turun untuk pemanasan dan latihan menggunakan goggle, bernapas melalui mulut.

Setelah itu perahu bergeser sedikit ke tengah di mana dari atas saja sudah nampak terumbu karang membentang. Byur … saya melompat dari perahu. Well, enggak tinggi-tinggi amat, sih, khawatir yang di rahim berontak.

Perlahan, saya beradaptasi dengan dunia bawah laut yang berada di depan mata. Dream comes true! Saya menyapa ikan-ikan kecil, mengucap salam selayaknya bertamu. Air laut agak keruh pagi itu mungkin efek ombak yang terkadang menghempaskan badan. Syukurlah ada fin yang membuat saya kuat melaju.

Siang harinya, sekitar pukul 1, kami snorkelling lagi di spot yang sama karena spot kedua airnya keruh. Kali ini sinar matahari sedang lucu-lucunya dan sedikit ombak. Air laut tampak lebih jernih, bahkan saya bertemu beberapa ikan badut yang berjaga di depan anemon. Ah, siang terik memang asyik untuk snorkeling!

snorkeling pulau abang batam
Beningnya air laut membuat terumbu karang terlihat jelas

Walau snorkelling hanya di satu spot namun saya bersyukur. Masya Allah, underwater Pulau Abang Batam indah. Jenis karangnya beragam, ikannya banyak, dan yang rada ngeri di mana-mana ada bulu babi. Semoga tetap lestari, ya.

Untuk snorkelling kali ini, saya belum berani jauh-jauh dari perahu, entahlah mungkin karena terlalu lama tidak main air asin, hehe. Selain itu, saya ragu mau melepas life jacket (kecuali untuk sesi foto-foto biar kelihatan kece, hahaha …). Namun, pengalaman snorkelling hari itu sungguh membahagiakan.

Oh ya, selama one day trip tersebut, beberapa peserta ada yang mabuk laut sampai satu orang pingsan. Duh, kasihan melihatnya mau liburan malah jatuh sakit. Note to myself, untuk liburan petualangan seperti ini harus sadar diri, enggak boleh memaksakan kalau memang kondisi badan kurang fit atau sehari sebelumnya kurang istirahat.

Harga Snorkeling di Pulau Abang Batam dengan Galang Bahari

One day trip ke Pulau Abang Batam selesai lebih cepat dari jadwal. Pukul 4 sore rombongan sudah selesai bilas dan menikmati teh atau kopi hangat di homestay. Para peserta pun kembali ke pelabuhan PT. Pari naik perahu.

Rasanya esok masih ingin snorkelling lagi di spot-spot yang lain tapi teringat SID menunggu, baiklah mari kita pulang. Next time menunggu si anak agak gedean, mungkin 7 tahun, barulah saya ajak ia snorkelling.

harga snorkeling pulau abang galang bahari
Di Homestay Galang Bahari

Nah, sekarang untuk pricelist alias harga snorkeling di Pulau Abang Batam, saya menggunakan jasa Galang Bahari (IG @galang.bahari). Open trip seperti ini seharga Rp290.000,- bila meeting point di pelabuhan dan Rp350.000,- bila meeting point di Kepri Mall, Batam (pusat kota). FYI, dari Kepri Mall ke pelabuhan jembatan 6 Barelang butuh waktu sekitar 1,5 jam. Jauh juga, ya. Kalau enggak ada kendaraan sendiri lebih baik ikut yang meeting point di Kepri Mall.

Harga di atas all-in, dari life jacket, sepatu karet/ kaki katak, snorkel set, foto underwater, fasilitas toilet dan loker di homestay, makan siang, kelapa muda, teh dan kopi. Duh, sedapnya minum kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya.

trip galang bahari batam
Menu makan siang: tumis sayur dan dadar telur. Satu lagi ada ikan saos pedas (enggak ambil khawatir kepedesan)

Anak-anak juga bisa ikut snorkelling dengan biaya sesuai usia yaitu usia 4 – 7 tahun Rp200.000,- dan usia 8 – 10 tahun Rp230.000,-. Fasilitas yang didapat sama, sayangnya tidak ada sepatu karet ukuran kecil jadi keponakan saya waktu itu memakai sandal gunung selama snorkelling. Snorkel set juga adanya ukuran dewasa, andai SID ikut snorkelling ya perlu membawa snorkel set sendiri.

Baca juga: Liburan Mandiri di Singapura

Overall, snorkelling bareng Galang Bahari menyenangkan. Ya mengobati kerinduan saya akan air asin dan penghuni laut. Hoho ….

Selanjutnya, snorkelling di mana lagi ya?

pelabuhan pt pari jembatan 6 barelang
Terima kasih teman seperjalanan yang udah menemani bumil penasaran
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Author: helenamantra

Love to share stories on helenamantra.com and myfoottrip.com

4 Thoughts

  1. Aku habis BW ke banyak blog, ternyata banyak ya bumil yang sedang masuk trimester kedua. hebat bumil yang satu ini, snorkling bok. aku aja yang tidak sedang hamil ga berani snorkling, wkwkw

    sehat-sehat ya mbak untuk kehamilannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *