Considering A Travel-Mate(s)

Considering A Travel-Mate(s)

S: Do you like to travel alone?

M: Sometimes traveling with travel-mate is better but sometimes it is difficult to find the right schedule to go on holiday together. Even thought I travel alone I don’t feel lonely because I meet new friends there.

S: What are the advantages of traveling with travel-mate?

M: We can share cost and there is someone to take my pictures (grin)

S: (laughing) Yes, that’s important.

====

Itulah cuplikan pembicaraan yang pernah saya dengar. Somehow I agree with “M”, traveling dengan satu atau lebih travel-mates memang bisa menghemat biaya untuk menginap, transportasi, makanan, juga termasuk menawar barang untuk oleh-oleh karena beli banyak. Apalagi untuk yang narsis, jadi bisa gantian foto dg si travel-mate. Disamping hal di atas, seorang teman pejalan berkata bahwa keasyikan traveling itu 50% bergantung pada dengan siapa kita jalan-jalan.

Pergi sendiri itu asik!

Bisa bebas menentukan mau kemana, kapan, berapa lama tinggal di suatu tempat, cepat dapat tiket promo, mudah nebeng, dan seterusnya. Namun bagi sebagian orang merasa kesepian di perjalanan, ga ada teman bercerita, kalau di tempat asing merasa was-was karena sendirian, rajin nyasar (sebut saja: saya!), biaya akomodasi dan transportasi ditanggung sendiri, dan macam-macam.

Tiga hari pertama dalam Mayday Project 2012 dari Kuala Lumpur, Hat Yai, sampai Melaka saya sendirian. Clingak-clinguk di negeri orang dg backpack setinggi separo badan. Saya sempat mupeng melihat backpackers yang perginya serombongan. Namun ada kenikmatan tersendiri dg kesendirian saya ini. Ga ada yang buru-buru ngajak jalan ke sana ke sini. Saya bisa bengong berjam-jam melihat penduduk lokal  berinteraksi di terminal (tepatnya di mushola terminal, hahah..ngadem!). Ajaibnya bantuan Allah itu ada saja sehingga saya bertemu orang-orang yg baik hati traktir saya makan sampai transport.

travel-mates (2)
Baru kenal beberapa jam, travel-mates dadakan (pic by: Ferdi)

Do I need a travel-mate(s)?

Manusia diciptakan menjadi makhluk sosial yang membutuhkan bantuan makhluk lain (mmm..makhluk halus apa termasuk ya?). Kebutuhan untuk berinteraksi selalu ada. Kalau ga ada teman untuk bicara, bisa jadi self talk (hayo..pernah kan?).

Jalan-jalan dengan rekan bakal seru, tapi ada hal-hal yang harus diperhatikan. Ini bukan berarti pilih-pilih dalam berteman, menurut saya banyak teman banyak rejeki. Memang ada kalanya teman yang ini cocok buat aktivitas indoor, teman yang itu cocok diajak aktivitas outdoor, teman yang lain pas buat ngerumpi, dan lain sebagainya. Kalau ke pantai tapi ajak orang yang suka ke mall jadinya ga nyambung. Kamu mau main air, eh dia berteduh di bawah pohon kelapa.

Hal-hal seperti di atas jadinya mengubah liburan yang awalnya mau having fun menjadi sebel binti bete. Baiknya disepakati di awal sebelum melakukan perjalanan. Dari mulai menyamakan misi, susun itinerary, pilih tipe jalan-jalan ala koper-ransel-apa kresek, budgeting, dan banyak lagi. Ribet ya? Iya, demi kebaikan dan kesenangan bersama saat traveling nanti. Kalau ada yang ga mau mikir dan berpendapat tentang rencana perjalanan berarti dia setuju dan ga boleh protes.

Selain itu harus saling mengenal dan memahami karakter masing-masing. (wait..ini mau jalan-jalan apa cari jodoh si?). Bayangin deh, misal mau mendaki Semeru butuh sekitar 3-4 hari (terus saya bingung karena belum pernah mendaki Semeru, hahah, ganti contoh saja). Misal dari Jakarta mau ke Surabaya naik kereta api. Perjalanan sekitar 13-14 jam di kereta dihabiskan dengan berinteraksi dengan travel-mate. Yah mungkin ada beberapa jam tidur, let’s say 6 jam deh duduk berdampingan, apa hanya diam sepanjang perjalanan? Atau malah sibuk sendiri pencet-pencet gadget sementara di samping ada teman? Gimana kalau gadget lowbatt, ga bawa komik, dan susah tidur? Selama perjalanan bakal cerita-cerita dg teman dan harapannya teman ini yang nyambung diajak ngobrol supaya ga garing. Lalu saat di lokasi tujuan butuh rekan yang bisa saling membantu dan berbagi, bukan cuma menyuruh ini itu sedangkan dia bermalas-malasan.

Image
Terombang-ambing sekitar 6 jam di katinting bareng One Piece (pic by: Mona)

Banyak faktor mencari the right travel-mate(s). Biarlah ruwet di awal, tapi sekalinya dapat yang cocok jadi enak buat atur next trip dan next next trip. Selain cari rekan yang pas, ada baiknya kenali diri sendiri dahulu. Waduh, jangan-jangan rekan saya sudah oke tapi saya yang malah seenaknya dan kurang toleransi. Melihat travelers couple seperti @PergiDulu @jalan2liburan @DuaRansel jadi salut dan kagum dengan mereka. Konflik itu wajar terjadi, tergantung gimana kita mengatasinya. (salah satu) Kuncinya adalah KOMUNIKASI.

Ini tulisan macem konsultasi percintaan saja, etapi serius loh mencari pasangan buat jalan-jalan itu gampang-gampang susah. Sampai sekarang saya memiliki travel-mates yang mungkin setahun cuma ketemu sekali, berhubung jarang bisa cuti dan liburan bareng. Rekan-rekan seperjalanan saya alhamdulillah begitu menyenangkan dan mau bercapek ria saat traveling. Balance lah, ga terlalu sering foto dan mudah menyatu dengan local culture. Semoga mereka juga betah main-main dan jalan-jalan dengan saya. I love you all!

2 thoughts on “Considering A Travel-Mate(s)

  1. hahaha, bener. susah-susah gampang. Kalo udah ketemu yg cocok kykx bakal susah ngelepasinya. tapi giliran nemu yg aneh malah jadi -_- errrr…. (u know what I mean lah :p)
    dan kayaknya ga perlu “rombongan” sih. Kalo terlalu byk keder juga ngaturnya. kayak mau piknik deh akhirnya. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: