Browsed by
Category: Sulawesi

Hore…Matahari di Palu Ada Dua!

Hore…Matahari di Palu Ada Dua!

matahari_palu (8)
Matahari nambah satu di Palu!!!

Terjawab sudah penyebab peningkatan suhu di Palu, mataharinya ada 2! Tepat hari ini, 5 Desember 2013 dibuka surga belanja baru di kota Palu. Matahari Departement Store membuka cabang ke sekian ratusnya di Palu, akhirnyaaa.

Sebagai orang yang kepo dan prihatin jadilah saya menengok grand opening tempat belanja di dalam Palu Grand Mall. Letaknya asik, di pinggir Teluk Palu. Meski sebagian besar bangunan masih dalam masa konstruksi, namun tidak menghambat gejolak masyarakat untuk cuci mata di Matahari. Sayangnya tempat parkir belum tersedia, jadi sebagian jalan dipakai untuk parkir mobil dan motor dan tentu saja berujung pada kemacetan di depan Taman Ria.

matahari_palu (5)
Selamat Datang

Banyak pengunjung yang memotret dengan background ucapan selamat datang, termasuk saya heheh. Wow, gerainya 2 lantai dengan layout yang cukup padat. Bagian bawah untuk kosmetik, sepatu, dan pakaian wanita. Sedangkan lantai 2 untuk pakaian pria dan anak-anak. Pengunjung sore itu belum terlalu padat namun ruangan terasa panas. Sepertinya saluran AC belum terpasang dengan baik. Wah bagaimana jadinya kalau akhir pekan atau menjelang natal?

matahari_palu (3)
Suasana di Dalam Pusat Perbelanjaan

Anyway, selamat atas dibukanya Matahari Departement Store di Palu. Ini bukan iklan, hanya tulisan pribadi sebagai bentuk luapan kegembiraan para perantau. Peace!

  • matahari_palu (11)Cuma numpang foto

 

 

 

 

 

 

 

 

Helenamantra melaporkan dari tempat kejadian.

 

Berkebun Di Laut

Berkebun Di Laut

Berkebun yang ini unik, tidak di darat tapi di laut. Tidak menanam tumbuhan tetapi hewan (campur tumbuhan, coz karang itu simbiosis keduanya). Yuk ikut berkebun dengan transplantasi karang di Pantai Tanjung Karang, Donggala.

Mei 2013 lalu komunitas snorkeling dan free diving White Dolphin mengadakan transplantasi karang.

Save Tanjung Karang by White Dolphin

Hasil transplantasi pertama
Hasil transplantasi pertama
Hasil transplantasi pertama
Hasil transplantasi pertama

Setelah 5 bulan, karang dan medianya berupa semen diletakkan di dasar laut. Mejanya digunakan untuk transplantasi tahap 2 yang dilakukan minggu lalu. Ini langkah-langkahnya:

Meja dari dasar laut diangkat ke darat. Siapkan media tanam yaitu semen yang telah dicetak dengan pipa paralon. Ikat semen ke meja dengan kawat atau cable ties.
Image Image
Ambil karang yang nantinya digunakan sebagai bibit karang. Bawa ember sambil snorkeling bagaikan belanja di dalam air, hehe

Shopping under the sea
Shopping under the sea

Karang kecil diikat ke pipa dan bagian bawah karang harus menempel di semen. Kalau di pasir, karang ga bisa hidup. Karang ini makhluk laut jadi ga bisa terlalu lama di darat, maksimal 2 jam kemudian mati. Jadi, ikat dengan cepat atau ikat di dalam air. Selain itu beri jarak antar karang supaya kalau tumbuh berkembang ada ruang yang cukup.

Ikat bibit karang ke media
Ikat bibit karang ke media

Nah, sudah siap! meja isi 36 bibit karang diturunkan ke laut dengan bantuan tali. Tumbuh subur yaa supaya ekosistem laut terjaga dan ikan-ikan punya tempat bermain.

ImageImageYuk lestarikan terumbu karang, paling simple dengan tidak menginjak karang saat berenang atau bermain air di pantai/laut karena karang itu rapuh dan mudah mati namun tumbuhnya butuh ribuan tahun.

Bisa juga support program White Dolphin dengan mengadopsi karang. Program ini sementara masih dilakukan di Pantai Tanjung Karang,  Donggala, Sulawesi Tengah. Namun dimanapun berada, kalian bisa dukung program ini jadi papa mama karang untuk transplantasi karang. Let’s save coral!

Transplantasi karang oleh White Dolphin
Transplantasi karang oleh White Dolphin
Sepotong Surga di Sulawesi Tengah

Sepotong Surga di Sulawesi Tengah

Heaven on earth without spending thousands dollars? Visit Indonesia. Dana terbatas dan waktu yang singkat tak jadi masalah bila berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah.  Ada apa saja di sana?

Paragliding_MatantimaliPagi yang cerah dan angin berhembus lembut, ini saat yang tepat untuk terbang dengan paralayang dari Desa Wayu yang terletak di ketinggian sekitar 800 meter dpl. Jalan yang berliku-liku dan menanjak membuat perjalanan menjadi semakin menantang. Wayu dapat dicapai menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya dengan pengemudi yang berpengalaman, atau menumpang mobil bak terbuka milik tim Maleo Paragliding. Yap, instruktur dari Maleo yang akan memandu selama melayang di udara. Sulawesi Tengah memiliki lokasi terbaik untuk paralayang di Indonesia. Pemandangan kota Palu dengan teluknya terhampar luas di depan mata. Paralayang, atau dalam bahasa Inggris disebut Paragliding, adalah olahraga terbang bebas menggunakan parasut dan memanfaatkan angin sebagai daya angkat. Untuk itu diperlukan lahan yang luas di ketinggian sebagai tempat take off. Waktu yang paling tepat untuk paralayang adalah saat musim kemarau. Untunglah di Palu ini lebih sering panas dibanding hujan. Cuaca ini mendukung untuk bermain paralayang.

Keamanan selalu menjadi nomor satu. Helm, harness, dan parasut harus terpasang dan berfungsi dengan baik. Tidak lupa parasut cadangan. Untuk yang tidak memiliki lisensi alias SIM terbang, bisa terbang tandem dengan instruktur. Sebelum terbang, instruktur akan memberikan pengarahan cara take off dan landing yang benar. Sebaiknya memakai sepatu kets untuk memudahkan saat lepas landas dan mendarat. Bawa kamera atau handycam untuk merekam panorama Palu dari ketinggian dan juga untuk self portrait dari udara. Lokasi pendaratan ada di lapangan Desa Porame. Saat mendarat, kaki terus bergerak seperti sedang berlari dan tetap rileks. Hal ini untuk meredam momentum sehingga badan seimbang. Bagaimana rasanya 10-20 menit terbang bebas seperti burung? Coba sendiri sensasinya.

Puas melayang di udara, kini saatnya bermain air di Donggala. Jalan Trans Palu – Donggala yang khas berkelok-kelok dengan pemandangan laut yang membiru membuat satu jam perjalanan tidak terasa. Hati-hati berkendara melewati perkampungan penduduk. Hewan ternak seperti ayam, kambing, dan sapi sering berkeliaran dan menyeberang dengan tiba-tiba. Di pinggir jalan Palu – Donggala, nelayan menggantung hasil tangkapan hari itu. Ada ikan dan cumi-cumi yang panjangnya bisa mencapai 30 cm fresh from the sea. Bila sedang berbuah, penduduk lokal menggelar dagangan di depan rumah seperti mangga, pisang, dan pepaya. Suatu bentuk pasar yang sangat tradisional. Donggala juga terkenal dengan kain tenunnya. Home industry kain tenun ada di jalan menuju Tanjung Karang. Corak yang khas dan alat tenun yang sederhana menjadikan kain tenun Donggala sebagai cinderamata yang sebaiknya tidak dilewatkan. Karena beli langsung dari produsennya, harga kain masih bisa ditawar dan jauh lebih murah dibanding yang dijual di toko-toko di Kota Palu.

tanjung karang donggala (1)Donggala yang dikenal dengan sebutan kota niaga memiliki potensi bisnis dari sumber daya alam hingga pariwisata. Untuk mengakomodasi perputaran uang masyarakatnya, didirikan BNI kantor layanan Donggala sejak 5 Juli 1994. Bagi wisatawan yang kekurangan uang tunai atau ingin membeli oleh-oleh khas Sulawesi Tengah dapat menarik uang tunai di ATM BNI KLN Donggala.

Tiba di Pantai Tanjung Karang, pasir putih dan air laut yang biru jernih telah menanti. Pantai ini terletak di Donggala, 34 km dari kota Palu. Bagi pecinta snorkeling dan diving, inilah surganya. Dengan ketinggian air setinggi pinggang saja mudah melihat ikan berenang di sekitar kaki. Sesuai namanya, Tanjung Karang memiliki koleksi terumbu karang yang begitu luas. Saat berenang jangan sampai menginjak terumbu karang karena biota ini sangat rapuh.

Pantai ini ramai dikunjungi wisatawan lokal terutama hari Minggu untuk snorkeling, berenang (dikenal dengan istilah “mandi laut”), atau sekedar duduk santai menikmati pemandangan laut sambil makan pisang goreng. Sedangkan sebagian besar wisatawan asing berkunjung untuk menyelam di beberapa spot yang harus dijangkau dengan kapal kecil.  Bagi Anda yang tertarik menyelam atau mengambil sertifikasi menyelam, Prince John Dive Resort menyediakan fasilitas tersebut. Inilah resort terbaik di Pantai Tanjung Karang. Pemiliknya seorang kebangsaan Jerman. Pengunjungnya juga sebagian besar turis asing. Ada harga, ada rupa. Tarifnya dalam Euro atau Dollar. Saat ini BNI sedang membangun kerjasama dengan resort ini untuk pemasangan mesin EDC sehingga memudahkan pengunjung dalam melakukan pembayaran. Berbeda dengan cottage yang dimiliki dan dikelola warga lokal. Sewa tempat untuk sehari atau menginap, tarifnya sekitar Rp 100.000,- hingga Rp 300.000,- dengan fasilitas kamar tidur dan kamar mandi dalam. Pengalaman saya menginap, listrik dan air tawar terbatas pada jam-jam tertentu.

tanjung karang donggala (9) Tempat ini berbeda dengan pantai-pantai di Bali yang dipenuhi toko dan tour and travel agent. Tanjung Karang masih perawan. Warga lokal mengelola seadanya, salah satunya dengan mendirikan tenda-tenda untuk berteduh yang disewakan dengan harga Rp 20.000,- hingga Rp 50.000,-, bergantung banyak tidaknya pengunjung. Tenda ini beralaskan tikar dan akan digulung kalau air laut pasang supaya tidak menggenangi tenda. Kacamata renang dan ban pelampung juga disewakan seharga Rp 10.000,-. Taksi wisata alias kapal dengan glass bottom tersedia bagi anda yang mau melihat keindahan laut tanpa perlu berbasah-basahan. Harga sewa kapal sekitar Rp 50.000,- dan dapat memuat 10 – 15 orang. Jangan segan untuk menawar.

Kegiatan favorit saya di sini yaitu snorkeling bersama White Dolphin, komunitas snorkeling dan free diving di Palu. Mengikuti schools of fish yang mondar-mandir bergerombol membuat lupa daratan. Berbekal kacamata renang dan sepatu katak, saya menemukan dunia bawah laut yang mempesona. Ikan badut, kuda laut, bintang laut, ikan kakak tua, kerapu macan yang berharga tinggi, hingga ular laut pernah saya temui di sini. Begitu tenang menyaksikan parade berbagai macam hewan laut. Saya sempat bertemu dengan ubur-ubur yang berenang santai di dekat saya. Feels like I’m watching jelly fish on SpongeBob cartoon. Bawalah biskuit atau remah-remah roti dalam plastik untuk makanan ikan. Mereka dengan senang hati berebut makanan tanpa merasa takut pada manusia.

*dimuat dalam Majalah Sinergi 46 (internal magazine of BNI) tahun 2013*

=====

NB:

Berangkat dari mau mengenalkan potensi wisata Indonesia (plus sifat yang suka pamer :p) jadilah saya mencoba menulis satu artikel tentang wisata di Sulawesi Tengah, khususnya daerah sekitar Sigi, Palu, dan Donggala untuk dikirim ke majalah internal kantor. Menunggu sekian waktu, alhamdulillah artikel saya dimuat (setelah edit sana-sini). Senang banget keindahan tempat saya bekerja (dan bermain) bisa diketahui banyak orang, meski scope-nya masih internal kantor.

Bahagianya triple loh, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah!
Artikel newbie dimuat di majalah dan semoga dinikmati dan dimupengi para pembaca
Dapat honor pertama dari menulis! Yeaaay!
dan yang menakjubkan, diundang ikutan workshop jurnalis internal di Jakarta (hihi..maklum tinggal di luar jawa jadi norak)

alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah

Save Tanjung Karang by White Dolphin

Save Tanjung Karang by White Dolphin

Save Tanjung Karang by White Dolphin

Coral adoption program is the 1st event of White Dolphin in Tanjung Karang beach, Donggala, Central Sulawesi, Indonesia on May 19th, 2013.

Here is my twitter series about this event (in bahasa):

#WhiteDolphin itu komunitas pecinta snorkeling n free diving di Palu Sulteng. Join Facebook groupnya ya https://www.facebook.com/groups/276995179025737/

Hari ini #WhiteDolphin buat event transplantasi bibit karang n bersih2 sampah di karang, lokasi di pantai Tj Karang Donggala

Acara ini dibuka oleh sambutan dari pihak pemerintah, warga setempat, ketua #WhiteDolphin, n ketua acara

Himbauannya supaya kita lebih aware kalo nyemplung di laut, jangan asal injak karang sampe patah n mati #WhiteDolphin

Karang itu rumah ikan. Kalo rumahnya rusak, keseimbangan ekosistem bisa terganggu. Acara ini bikin rumah buat si ikan #WhiteDolphin

Bibit karang diambil/dipotong dari karang yg hidup sekitar 7-10cm trus diikat di media berupa semen n pipa #WhiteDolphin

Lalu diikat di meja besi supaya gampang angkutnya. 1 meja berisi sekitar 40-50 bibit karang. #WhiteDolphin

Meja diangkat bareng2 buat dimasukkan ke air. Tadi kedalamannya 3-4 meter. Meja besi + semen. Beraaaat! Ada 3 divers yg angkat #WhiteDolphin

Lokasinya strategis. Ikan2 kecil langsung liat rumah baru mereka, Coral Regency #WhiteDolphin

Di tiap balok karang sudah ada name tag donatur, sebut saja papa mama karang. Thx for ur participations! #WhiteDolphin

Acara ini juga diliput koran Radar Sulteng dan Radar TV. Na na na jadi artis :p #WhiteDolphin

Ohya bibit karang ini harus nempel ke semen. Kalo di pasir ga bisa tumbuh. #WhiteDolphin *ilmu baru

Ternyata pegang karang lama2 gatal n berlendir. Kenapa ya? Hati2 juga ada karang mulus tapi super gatal. #WhiteDolphin

#WhiteDolphin juga melepas seekor penyu yg dibeli dari nelayan. Jadi ada nelayan yg tangkap. Kasihan kan 🙁

Begitu dilepas di laut, super cepat penyunya berenang. Ga sempat foto deh. Semoga ga ditangkap nelayan lagi ya #WhiteDolphin

Di Tj Karang banyak sampah plastik, beling, makanan dari pengunjung yg dibuang gitu aja #WhiteDolphin

So #WhiteDolphin juga membersihkan sampah2 di sekitar pantai supaya tidak membahayakan biota laut maupun manusia

Matur suwun buat om om #WhiteDolphin, papa mama karang atas donasinya, om Tang, gov, n warga Tj Karang for today

Sekian cerita tentang acara #WhiteDolphin hari ini. Semoga bibit karang tumbuh subur makmur. Good night under the sea 🙂

Acara ini juga diliput berbagai media, here are some of them:

#WhiteDolphin in the news! http://www.pressphoto.co/transplantasi-terumbu-karang-4.html …

#WhiteDolphin lagi… http://beritapalu.com/Donggala/white-dolphin-transplantasi-karang-di-tanjung-karang.html …

#WhiteDolphin Menyelamatkan Habitat Laut http://www.metrotvnews.com/foto/detail/2013/05/20/3/3778/Menyelamatkan-Habitat-Laut …

Underwater Experience with White Dolphin

Underwater Experience with White Dolphin

where am I?
where am I?

It has been twenty five months I live here, in Central Sulawesi. A place that has magnificent underwater view, where fishes and corals live in harmony. Everyday I’m in love with the sea. In Tanjung Karang beach I learnt how to swim, snorkel, and free dive. They become my regular activity. Almost every weekend my friends and I go to the beach in Donggala to snorkel for an hour or two, or even more till sunset. J’adore regarder le coucher du soleil.

We have snorkeling and free diving club called White Dolphin. I learn a lot from them, how to survive under water and in life. Yeah, because we are from various backgrounds, age, gender, and job. White Dolphin likes to explore new spot, to discover safe place to snorkel. We put bubu (fish trap) and hopefully some fishes are trapped inside so we can cook it together.

Our favorite spot is KM 26. It is located 26 kilometers from Palu. Very special place for us because it is right beside main road of Trans Palu-Donggala. Corals are everywhere. Clown fishes, lion fishes, snakes, sea horses, and even sharks are there. They are marvelous and dangerous; depend on how we treat them.

Unfortunately, some people don’t keep the environment clean. Trash of plastics, glasses, food make the environment dirty and can be dangerous for fishes or human. So please put the trash in trash bin or keep it in plastic bag until you find nearest trash bin. We want to save the environment so our next generation and next two three and so on generation still can enjoy beautiful underwater panorama just like us.

White Dolphin from Indonesia
White Dolphin from Indonesia
Luwuk – Kota Berair

Luwuk – Kota Berair

Yang mendadak itu lebih sering jadi dibanding yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Quote ini cocok untuk menggambarkan trip mendadak dangdut ke Luwuk, suatu kota di ujung sulawesi. Kota yang saya sendiri tidak tahu seberapa jauh untuk dijangkau lewat jalur darat, bagaimana kotanya, ada apa saja di sana. Cuma satu di benak saya, mumpung di Sulawesi, mari menjelajah!
jernihnya air pantai kilo lima
Sore hari menjelang long weekend without good plan, tepatnya satu jam menjelang jam pulang kantor, saya mendapat tawaran menarik dari rekan sepetualang. Ajakan ke Luwuk gratis, bareng rekan kerja yang long weekend ini akan pulang ke rumahnya di Luwuk. Yang membuat saya ragu, berangkatnya tepat pukul 5 sore. Mana mungkin bisa pulang tenggo, yah taulah ni kantor orang-orangnya “demen kerja” sampai lupa waktu. Belum lagi saya harus packing ini-itu. Tapi…kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Gambaran di sana, perjalanan naik mobil, ga ikut nyetir, tinggal tidur, dan di Luwuk menginap di kantor teman (sekaligus rumah) merupakan berkah yang melimpah buat saya yang notabene ngekost jaya ini. Oke cabut!
Beginilah rute 30 menit yang padat untuk persiapan ke Luwuk yang super mendadak ini. Sud – Cdt – Yps – Cdt – Sud – Cdt – Lwk – Cdt – Yps – Sud yang ditempuh dari hari Kamis hingga Senin. Pukul 5 lewat saya mendapat telepon dari partner in crime, sebut saja CNL, untuk segera bersiap berangkat. Oke, setelah pamit sana sini dengan orang kantor, cepat-cepat menuju tempat janjian. Tidak sempat membawa Nik, hanya pergi bersama Jack. Yah at least ada Noir buat foto-foto.
5.30 pm petualangan dimulai. Untuk ke Luwuk dibutuhkan waktu sekitar 12 jam (ngebut dan ga banyak berhenti) namun nyatanya perjalanan kami sekitar 14 jam karena banyak berhenti untuk ke toilet, solat, dan makan. Rute perjalanan entah melewati berapa desa dan kecamatan, dari jalan mulus beraspal sampai jalan bopeng-bopeng macem off-road. Beginilah jalan Trans Sulawesi, cadas!!! PALU – Parigi – Tolai – Poso – Ampana – Pagimana – LUWUK! Perjalanan yang begitu panjang. Posisi Luwuk ada di balik gunung sebelah selatan, jadilah jalannya harus memutar melewati gunung entah apa ini sehingga perjalanan lewat darat semakin jauh.
Teluk Lalong

Setelah tidur – bangun – tidur – bangun entah berapa kali sampailah sudah di Pagimana. Foto-foto dulu di pinggir laut. Saya pikir sudah dekat, ternyata masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai di Luwuk. 7.30am hari Jumat sampai juga di Luwuk. Horeee! Terpesona melihat konjungtur kotanya yang berbukit-bukit. Rumah-rumah seperti sengkedan. Karena tanahnya yang berada di gunung sehingga jalannya naik turun tajam. Wah lumayan juga kalo harus naik sepeda di sini, capek! Kotanya kecil, kawasan pertokoan seperti di Donggala, Sulteng. Kalo belum pernah ke Donggala, ya bayangkan saja seperti Kota Tua di Jakarta, antik! Foto-foto dulu kemudian lanjut ke kantor tempat saya akan menginap bersama CNL (jangan lupakan dia).

Di kantor ini teman kami bertugas selama sebulan sekaligus tinggal di sana. Bayangkanlah 24 jam di kantor sekaligus rumah itu, zzz. Teman kami, sebut saja WS, bertugas bersama MD. Jackpotnya, ada ibu MD yang menginap di sana memasak setiap hari untuk mereka. Lumayan.. Selama di Luwuk setiap hari saya makan ikan katombo, nyam-nyam.. Alhamdulillah makan gratis dan lezat. Kantornya tidak terlalu besar namun luas, apalagi ditempati hanya 3 orang.

pantai kilo lima
Pantai Kilo Lima
bersantai bersama CNL
Tanpa menyianyiakan waktu, hari pertama jalan ke Teluk Lalong yg lokasinya tepat depan kantor Jams. Di sini tempat kapal yang mengangkut kontainer, ada kapal-kapal besar yang sedang berlabuh. Sore hari ke Pantai Kilo Lima yang berjarak sekitar 15-20 menit dari kantor Jams. Airnya super bening! Kalo sore gini rame, banyak yang mandi laut. Ada warung-warung yang menyediakan pisang goreng, lalampa, dan minuman. Yang mau renang langsung nyebur aja, tempatnya di pinggir jalan, ga perlu bayar tiket masuk. Malam hari lanjut ke Bukit Inspirasi yang letaknya tinggiii di atas Luwuk dan bisa melihat kota dari kejauhan. Malam hari kota ini terlihat cantik dengan lampu di sana-sini. Kalo kata boss, seperti Hongkong! Di bukit inspirasi makan lupis dan minum saraba. Eh ternyata ada lupis (jajanan khas Jawa) di Luwuk.
Hari kedua, mumpung masih pagi semangat bangunin orang-orang untuk ke Pantai Kilo Lima lagi. Hehe, ga sabar mau renang. Kalo pagi pantai ini sepi, yang renang lansia buat hilangin rematik. Ada fresh fishes langsung dari perahu, asik asik nanti makan ikan katombo. Puas berenang, balik ke kantor dan te par! Hari Sabtu ini hujan terus, jadinya jagain jemuran deh. Malamnya cari oleh-oleh keripik keladi yang ternyata enak. Baru tahu juga kalo ada buah/sayur keladi, aku pikir cuma ungkapan macem tua-tua keladi. Dapat cukup oleh-oleh, jalan kaki lagi, foto-foto lagi. Mulai mati gaya nih, duduk dulu di pinggir Teluk Lalong yg di sepanjang jalan ada warung makan. Niatnya pesen minum aja sambil killing time, eh ga boleh sama yang jual. Belinya harus sepaket, jalankote dengan jus. Aturan macem apa ini!!! Makanannya kurang pas deh, tapi pemandangannya itu loh cantiiik, banyak lampu di mana-mana. Luwuk enak buat jalan kaki, kotanya kecil dan bersih. Trotoarnya juga rapi dan bisa dipakai buat pejalan kaki, beda banget dengan Palu.
Wah udah hari Minggu aja nih, stay di kantor aja beberes buat siap-siap dijemput temen kantor untuk ke Palu lagi. Pukul 11 mobil jemputan datang, pamit sana-sini dan berangkat… baiknya si bapak ini, kami diberi waktu buat foto-foto kalo ada view bagus. Foto di jalanan sepi dg view hutan pinus, ke air terjun Salodik, di pinggir jalan entah di mana, haha..thank a lot! Air terjun Salodik ini letaknya pinggir jalan. Bentuknya bersusun dan pendek tapi viewnya tetep bagus buat jadi objek foto. Biaya masuk Cuma seribu, penjaganya pun setengah hati nungguin di pagar. Rame juga, ada tempat buat duduk-duduk macem piknik. Mantab lah ni tempat. Sayangnya daerah sini kurang terawat tempat wisatanya padahal mudah dijangkau dan masih alami. Baiklah, perjalanan masih panjang. Pukul 1 pagi hari Senin pun masih sempet mampir makan lalampa di Toboli yang terkenal enak itu. Jadinya pukul 3 pagi sampai Cdt alias cik di tiro. Langsung saya dan CNL tepar sampai subuh.
air terjun Salodik
hutan pinus
Salodik

Perjalanan yang panjang namun terasa singkat. Terima kasih pada semua pihak yang membuat saya mencapai Luwuk dan sampai ke Palu kembali dengan selamat. Bravo Indonesia!

Luwuk 23 – 25 Maret 2012

re-posted from http://helenamantra.blogspot.com
Kompetisi di Udara

Kompetisi di Udara

fly | measure | winner | supporter
fly | measure | winner | supporter

Kapan terakhir kali dipanggil ke atas panggung untuk menerima piala dan medali hasil dari menang suatu kompetisi? Adrenalin dan ego terpacu menjadi yang terbaik diantara para peserta. Mengukur kekuatan diri dan menilai kehebatan lawan untuk ditaklukkan. Keringat dingin, perut mules, dan segala demam panggung menunggu perlombaan dimulai. Memecah konsentrasi lawan supaya membuat kekeliruan.
Inilah yang saya dapati saat Kejurda Paralayang Sulawesi Tengah 2013 yang berlangsung 16-17 Maret 2013 di Desa Sibedi, Kab. Sigi, Sulteng. Pertama kali saya menyaksikan kompetisi salah satu aero sport terkenal di Sulteng, paralayang alias paragliding. Merangkap jadi panitia dadakan, pencatat skor, suporter, dan fotografer memberikan pengalaman mengasyikkan.
Lomba kali ini mengenai akurasi ketepatan mendarat. Ada titik target pendaratan yang ditandai dengan lingkaran putih di tengah dan dikelilingi beberapa lingkaran besar. Semakin dekat mendarat di titik pusat maka poin semakin kecil. Pemenangnya adalah peserta dengan poin terkecil. Masing-masing diberi kesempatan terbang 5x atau disebut sorti. Bagi yang mendarat di luar lingkaran terbesar mendapat poin 500. Perlu diperhatikan mendaratnya harus kaki dahulu yang menyentuh lingkaran. Bila harness yang terlebih dahulu menyentuh tanah maka dianggap gagal dan mendapat poin 500.
Satu-satunya peserta yang berhasil mendarat tepat di target adalah Asgaf, wakil dari Donggala. Beberapa peserta juga berhasil mendarat di dalam lingkaran meski tidak tepat di titik nol. Dan banyak peserta mendarat di tempat yang jauh dari target. Ada yang kena pohon, nabrak kandang kambing, nyangkut di semak-semak, turun di ladang jagung, sampai ada yang terpaksa landing di dekat kuburan karena anginnya terlalu kencang.

Asgaf, the winner of Kejurda Paralayang Sulteng 2013
Asgaf, the winner of Kejurda Paralayang Sulteng 2013

Bangga dan haru melihat perjuangan mereka, para atlet dan calon atlet Indonesia. Semoga event Kejurda ini menjadi titik awal mereka untuk lebih serius berlatih menghadapi  pertandingan-pertandingan selanjutnya di tingkat nasional maupun dunia. Suatu kehormatan Mei-Juni 2013 ini Sulteng menjadi tuan rumah untuk World cup of Paragliding. Indonesia sebagai salah satu negara unggulan semoga dapat bertanding dengan maksimal dengan tetap menjunjung fair play.

Keep calm and fly high, baby!

@helenamantra

there is me inside this banner
there is me inside this banner