Browsed by
Category: Sulawesi

5 Tips Agar Couch Request Diterima di Couchsurfing

5 Tips Agar Couch Request Diterima di Couchsurfing

Salah satu pengeluaran besar dalam traveling yaitu biaya akomodasi. Bagi saya, mencari tempat menginap ketika bepergian sendiri sebisa mungkin dengan harga murah (tapi tempatnya bersih dan aman). Menginap di hotel sendirian kok rasanya sayang ya. Kamar hotel yang luas cukup untuk 2-3 orang tetapi ditempati sendiri. Andai bisa sharing dengan pelancong lain tentu lebih hemat (dan ga menyeramkan).

Selain akomodasi, kadang kurang informasi tempat wisata yang recommended di suatu daerah, utamanya Indonesia. Beda dengan negara maju yang pariwisatanya dikelola dengan baik dan akses informasinya mudah didapat lewat browsing maupun brosur. Ngomongin potensi wisata di Indonesia itu luar biasa. Justru… saya kadang tahu tempat wisata dari turis mancanegara yang berkunjung ke sini.

Dua hal itu menjadi lebih mudah setelah saya bergabung di Couchsurfing (CS). Couchsurfing ini bisa dibilang media sosialnya para traveler. Kalau orang umumnya punya Facebook, traveler punya Couchsurfing. Di sini kita bisa berkenalan dengan traveler dari seluruh dunia, menjadi teman, saling berbagi referensi, traveling bareng, juga berbagi tempat menginap.

Read More Read More

Satu-Satunya Artikel di Majalah

Satu-Satunya Artikel di Majalah

Beberapa hari lalu Path mengingatkan memory tahun 2013. Sebuah foto yang di-tag teman menunjukkan nama saya tertera di majalah internal kantor. Itulah pertama kalinya artikel saya dimuat di majalah (sampai saat ini belum nambah lagi, heuuu). Betapa bangga dan tidak percaya ternyata tulisan saya yang masih hijau bisa lulus sensor dari Bu editor. Terlebih lagi tujuan saya menulis untuk mengobati luka hati.

artikel helenamantra.jpg
Hore masuk majalah (tapi banyak typo)

Read More Read More

Landing Mulus di Pohon Kaktus

Landing Mulus di Pohon Kaktus

Saat blogwalking dan menemukan artikel yang bermanfaat, maunya memberi komentar. Eh, sebelum komentar muncul harus memilih gambar untuk membuktikan “I’m not a robot”. Kali ini disuruh memilih gambar kaktus. Saya jadi cekikikan sendiri saat nge-klik tiga gambar kaktus yang mengingatkan kejadian konyol beberapa tahun lalu.

Di suatu pagi yang cerah saya dan teman-teman mengendarai motor ke Bukit Teletubbies. Kami menyebutnya demikian karena bentuknya mirip bukit di film anak Teletubbies. Di sana sudah ada teman-teman komunitas Maleo Paralayang yang sedang berlatih. Bukit ini tidaklah terlalu tinggi dan sekitarnya tidak banyak pepohonan sehingga cocok untuk siswa berlatih paralayang.

Seorang teman menyodorkan walkie-talkie dan berkata bahwa pelatih ingin berbicara dengan saya. Pak pelatih berbicara dari atas bukit sedangkan saya di tempat landing. Beliau menantang saya untuk take-off dari atas Bukit Teletubbies. Ritme jantung saya jadi tak karuan. Selama ini hanya jadi tim hore-hore bila ada tamu yang hendak mencoba paralayang. Pengalaman terbang pertama tandem dengan pilot sudah setahun yang lalu di Wayu, Sulteng. Memang sih kemarin sempat diajari cara mengenali tali parasut A-B-C-D, membuka parasut, mengendalikan parasut, dan mendarat yang benar. Tapi…tiba-tiba ditantang terbang solo? Baiklah saya coba!

Read More Read More

Tamu Foottrip: Chrystoulette

Tamu Foottrip: Chrystoulette

Chrystoulette menjadi tamu paling nyentrik yang pernah saya terima. Sudah dua tahun ini dia hidup nomaden berkeliling dunia sendiri. Sebagai seorang cewek, dia tergolong berani. Pertama kali bertemu dengannya, saya takjub. Badannya tinggi besar, berkulit gelap, dan rambutnya setengah dicukur (susah dijelaskan dengan kata-kata). Chrys memiliki darah Eropa-Afrika dari orang tuanya. Sekilas tubuhnya memang sangar namun dia sangat ramah saat menceritakan asal-usulnya.

chrys_foottrip (1)
Chrys is on the stage

Saat ada gathering penyuka traveling, saya dan Chrys ikut. Lokasinya di Kafe jalan Juanda. Senangnya memiliki teman dari daerah dan negara lain, kami bisa bertukar cerita tentang daerah masing-masing. Kalau di Swiss, gaji tinggi namun biaya hidup juga tinggi. Bahkan dirinya sendiri yang asli Swiss jarang untuk berlibur di dalam negaranya. Dia lebih memilih ke negara tetangga yang lebih terjangkau. Berhubung Swiss dikelilingi daratan, main ke negara sebelah gampang. Beda dengan Indonesia, harus berenang dulu. Makin malam kafe ini makin ramai apalagi ditambah dengan live music. Chrys ditantang untuk menyanyi di panggung. Siapa sangka ternyata dia jago menyanyi sambil bermain gitar. Suara merdunya melantunkan Torn dari Natalie Imbruglia.

Esok paginya kami mau ke Pantai Tanjung Karang, YES! Orang bule harus tahu isi lautan Indonesia yang kaya raya, kan di negaranya susah cari yang seperti ini. Waktu packing, tasnya jebol. Tas ini sudah menemani dia selama backpacking. Daripada nantinya dia berakhir dengan menenteng baju-baju di tas kresek, saya menyarankan dia segera mencari backpack yang kuat dan awet. Nah kalau beli di toko khawatir bakal dimahalin karena dia bule, saya buka saja website online shop ZALORA yang terpercaya dan bisa segera mengirim pesanan. Apalagi dia tidak punya banyak waktu di Indonesia karena masa berlaku visa tinggal 2 minggu lagi.

chrys_foottrip (2)
on the way to the beach

Urusan tas selesai, kami berangkat ke pantai. Chrys membonceng saya naik motor. Selama perjalanan dia berulang kali bertanya, “Kurang berapa kilometer lagi?”. Walau nekat tanpa SIM, dia ngebut sampai membuat saya ketakutan. Sampai di Tanjung Karang, kami langsung snorkeling menikmati indahnya dunia bawah laut. Tentu saja dia terkagum-kagum dengan pantai yang bening dan warna-warni terumbu karang di Pantai Tanjung Karang. Sebagai orang Indonesia saya begitu bangga bisa mengenalkan kekayaan Indonesia ke turis asing seperti Chrys.

chrys_foottrip (3)

Senja Terakhir di Taipa

Senja Terakhir di Taipa

Image

30 menit naik motor dari Palu ke arah Tavaili. Setelah jembatan mamboro belok kiri. Kalau berada di tempat banyak pohon mangga artinya sudah dekat. Ikuti petunjuk menuju Pantai Taipa yang dalam bahasa Kaili berarti mangga.

ImagePaus pembunuh dan anjing laut menyambut kami. Satu jam sebelum matahari terbenam kami memutari area yang luas itu. Ada cottage, arena bermain, bebek kayuh, panggung hiburan, dan tempat lesehan yang disewakan. Katanya pantai ini dulu terkenal sebagai tempat liburan keluarga maupun acara outbound perusahaan. Namun sekarang beberapa tempat nampak kurang terawat, termasuk patung paus raksasa.

Image

Kami beranjak ke dermaga biru menunggu sunset.Di ujungnya saya berdiri dalam sunyi memejamkan mata mendengarkan dengan seksama suara alam.Saat membuka mata, langit bersemu kemerahan. Dari dermaga ini matahari tertutup gunung. Hanya semburatnya yang malu-malu terlihat. Kami mengagumi warna-warni langit yang begitu indah hingga bintang bulan bermunculan.

ImageTerima kasih Taipa dan senja! Besok saya menyelesaikan kisah perantauan di sini. Sampai jumpa kalau saya liburan ya, LIBURAN ~

Jual Kain Tenun Khas Sulawesi Tengah | Foottrip Store

Jual Kain Tenun Khas Sulawesi Tengah | Foottrip Store

Jual kain tenun khas Sulawesi Tengah di http://foottrip.wordpress.com/foottrip-store/

Foottrip Store
kain tenun khas Sulawesi Tengah

Tenun, batik, dan songket merupakan kekayaan budaya Indonesia. Di satu kota perhentian, FOOTTRIP menjumpai tenun yang menarik namun kurang dikenal secara luas. Kini FOOTTRIP menghadirkannya dalam koleksi “Kain Tenun Khas Sulawesi Tengah”. Kenali dan kenalkan negerimu! (

Mau tanya? borong? nego? hubungi kami di:
Instagram: Foottrip
E-mail: helenamantra@live.com
Line: helenamantra
BBM: 7552FE62

Batu Raksasa di Situs Megalitikum

Batu Raksasa di Situs Megalitikum

Welcome to Pokekea
Welcome to Pokekea

Ini patung apa? Bentuk aslinya bagaimana? Menggambarkan apa? Gunanya apa? Makam, berhala, atau maksud lain? Apa yang hendak disampaikan orang dari masa lalu? Bagaimana mereka memahat batu-batu raksasa ini? Begitu banyak pertanyaan bermunculan sesampainya di situs megalitikum yang merupakan bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Berhubung ke sana tanpa didampingi arkeolog atau ahli sejarah, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menggantung.

Tamadue Megalithic Site
Tamadue Megalithic Site

Di Desa Tamadue terdapat bongkahan bebatuan di suatu lapangan. Batu yang begitu besar ini diberi sesajen oleh warga sekitar yang mayoritas penganut Hindu. Letaknya tersembunyi di balik rimbunan pohon bambu tanpa ada papan penunjuk arah. Dipandu warga lokal, kami menuju situs megalitikum tersebut. Ada pula patung setinggi sekitar 170 cm berbentuk manusia yang nampaknya memakai peci. Kesan pertama saya, patung ini mirip Presiden RI pertama, Bung Karno.

Pokekea Megalithic Site
Pokekea Megalithic Site

Berbeda dengan Tamadue, situs megalitikum Pokekea lebih terawat. Ada papan penunjuk arah dan papan selamat datang. Kami ditemani oleh Simon, seorang anak yang rumahnya tepat di samping jalan setapak menuju Pokekea. Tempatnya lebih luas dengan batu berukir yang berbentuk seperti mangkuk setinggi 1,5 meter. Konon mangkuk ini semacam tempat mandi jaman dahulu. Ada bagian cerukan di dalamnya, bayangan saya itu tempat duduk sambil merendam kaki. Mangkuk ini dilengkapi dengan tutupnya yang sebagian tertanam di tanah. Tutup raksasa ini, bagaimana mengangkatnya? Dibutuhkan tenaga berapa manusia jaman sekarang kalau membawa tutup ini tanpa bantuan alat? Ada pula patung atau arca berbentuk manusia di Pokekea. Sebagian rekan saya berpendapat itu berbentuk monyet. Lebih baik bertanya ke yang lebih ahli daripada sotoy 😀

Tak jauh dari Pokekea, ada 2 situs namun saya hanya berkunjung ke situs Tadulako. Kami melewati pinggir sawah yang becek dan melompati pagar untuk bertemu satu-satunya patung di antara padang rumput yang begitu luas. Inilah Tadulako, atau dikenal sebagai pemimpin perang. Namanya tidak asing bila berkunjung ke Palu, ibukota Sulawesi Tengah, karena nama tersebut dijadikan nama universitas negeri di sana. Tadulako berdiri sendiri, seperti sedang menanti entah apa atau siapa. Di tempat itu saya malas beranjak pergi. Pemandangan sekitar begitu memanjakan mata. Matahari menembus kumpulan awan menyinari padang rumput, sesekali terdengar lenguhan kuda yang tertambat di dekat sawah, dan selalu di situ ada Tadulako yang menunggu.

Tadulako Megalithic Site
Tadulako Megalithic Site

Perjalanan, Bukan Tujuan: Situs Megalitikum di Sulawesi Tengah

Perjalanan, Bukan Tujuan: Situs Megalitikum di Sulawesi Tengah

Palolo

Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara

Desa Batue, Kecamatan Lore Peore

Desa Torire, Kecamatan Lore Tengah

Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah

Itu sebagian dari daerah yang dilalui untuk menuju situs megalitikum.

======================================================

Image
long long journey

Beginilah tantangan mencapai suatu tempat di Sulawesi. Jalanan berliku, naik turun, bolong-bolong. Dari Palu yang beraspal hingga Doda yang dipenuhi ilalang. Kalau mau belajar nyetir mobil, Sulawesi tempat yang tepat.

Perjalanan hingga mencapai situs megalitikum di Pokekea sekitar 5-6 jam. Karena saat itu natal maka perbaikan jalan di dekat Danau Tambing dihentikan sementara. Tidak ada buka – tutup jalan. Sepanjang perjalanan melihat padang rumput dan gunung seperti lukisan. Capek duduk, iya. Tapi terbayar dengan pemandangan di sekitar. Matikan AC, buka jendela, dan nikmati semilir angin yang makin lama makin dingin. Segar!

Entah sudah berapa puluh gapura “Selamat Datang” dan “Selamat Jalan” yang dilalui. Menuju Desa Doda dan Pokekea bisa ditempuh dari Palu melalui Palolo ke arah Danau Tambing (TN Lore Lindu). Kemudian melewati desa-desa yang disebutkan di atas. Tiap desa ditandai dengan umbul-umbul berwarna-warni seakan menyambut kedatangan kami.

Transportasi ke sana paling mudah dengan kendaraan pribadi atau sewa kendaraan. Kalau budget pas-pasan, cobalah mencari kendaraan yang searah, meski sepanjang perjalanan jarang bertemu kendaraan lain. Dari Napu ke Palu biasanya ada mobil pick up yang mengangkut sayuran untuk dijual di Palu. Berani mencoba hitchhike?

Image
Sok-sokan hitch-hike

Tamu – Tamu Couchsurfer

Tamu – Tamu Couchsurfer

Desember ini kedatangan banyak tamu yang sedang berlibur di Palu. Untuk pertama kalinya saya jadi host di kamar alakadarnya yang sarung bantal aja pinjam ke kamar sebelah. Awalnya agak aneh karena saya biasa tinggal sendiri, kalau yang ini tiap pulang kerja sudah ada yang menunggu. Berkenalan dengan mereka menambah energi positif saya tentang menjalani kehidupan. Dua couchsurfers yang sempat tinggal dengan saya ini benar-benar menikmati hidup.

===

Image
Jumping on Matantimali

Normalnya perjalanan Toraja – Palu itu 24 jam, tapi Iva melaluinya selama 36 jam naik bus karena jalanan banjir dan rusak. Untunglah ia ditemani Neil, warga lokal yang kebetulan berlibur di Toraja. Setelah mendapat gelar master, Iva dari Czech Republic menempuh perjalanan setengah globe untuk liburan ke Indonesia. Ia memanfaatkan visa 60 hari untuk berkeliling pulau Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi. Waktu ia melihat peta Indonesia di kamar, ia berkata, “Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau. Kalau 1 hari ke 1 pulau kemudian besoknya pindah ke pulau lain membutuhkan waktu sekitar 46 tahun untuk berkeliling Indonesia.”. Pernyataan ini membuat saya sebagai warga lokal merasa begitu beruntung sekaligus bingung, lama juga ya 46 tahun.

Snorkeling merupakan hal baru baginya saat ia bekerja dalam kapal di Spanyol. Seketika ia takjub melihat ikan bergerombol di dekatnya. Saat ke Pantai Tanjung Karang Iva sangat bersemangat melihat beningnya air di sana. Tujuan utama dia ke Palu dan membatalkan untuk ke Poso adalah mencoba terbang dengan paralayang. Sepanjang di udara Iva tersenyum lebar tanpa gugup sedikitpun. Sebagai kenang-kenangan sebelum ia melanjutkan perjalanan, Iva membuatkan balon berbentuk bunga. What a surprise!

===

Image
Duduk manis di depan rumah raja – Sau Raja

Dua bulan bekerja sebagai pustakawan di Timika, Papua membuat Friska makin mencintai anak-anak. Siswa di sekolah yang sering bermain ke perpustakaan yang dikelolanya suka bergurau “tes tes to”. Mumpung ada waktu 3 minggu libur semester, Friska langsung tancap gas buat keliling Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Tujuannya kali ini mempelajari sejarah dan budaya suku asli yang memang menjadi kesukaannya. Sebenarnya Friska tidak begitu suka wisata laut, tetapi ia tidak bisa menolak godaan untuk berenang di Pantai Tanjung Karang dan TN Togean.

Tantangan transportasi ke tempat wisata pun tak menjadi masalah. Kalau tidak ada angkutan umum maka ia mencari tumpangan kendaraan yang searah alias hitchhike. Pesan positif yang ia bagi adalah bila dalam perjalanan ada suatu hambatan maka janganlah hal itu membuatmu tidak bersemangat melanjutkan jalan-jalan. Buat Friska, semoga ada kesempatan lagi untuk mencoba paralayang, berenang bersama ubur-ubur di Danau Mariona, dan pergi ke Tibet!