Browsed by
Category: Nusa Tenggara

Sonya Home Stay: A Review

Sonya Home Stay: A Review

sonya_homestay_lombok (16)

Satu hari saya menginap di Sonya homestay yang pernah saya baca di beberapa blog para traveler. Lokasinya di Jl. Raya Senggigi no. 54, Lombok, NTB, Indonesia. Ada websitenya juga di http://sonyahomestay.com/homestay/. Resepsionisnya ramah, seorang perantau dari NTT.

Dengan Rp 80ribu sudah mendapat kamar dg kasur untuk 2 orang, kamar mandi dalam, lemari, dan sarapan pancake + buah. Untuk sarapan ini made by order, jadi pesanlah sebelum benar-benar kelaparan.

Free wifi di sini lumayan koneksinya, untuk browsing info tempat wisata di sekitar Lombok. Saya lupa hitung ada berapa kamar di situ tetapi memang tidak banyak. Err..ga harus hitung sih, bisa langsung tanya resepsionis saja.

Sonya_Homestay_Lombok

Kalau mau laundry juga bisa, Rp 15ribu per-kg. Namun ga jelas ini keringnya kapan, bergantung cuaca ><

Bagi yang mau sewa motor juga bisa di Sonya. Per hari Rp 35ribu, termasuk murah. Ada peta yang bisa dipinjam. Endingnya si peta ikutan dibawa pulang, hehe.

Pendapat saya dg harga segitu dan fasilitas serta keramahan pegawai sebagai intangible asset, Sonya home stay worth to try.

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 3)

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 3)

Pusat oleh-oleh khas Lombok letaknya berdekatan. Setengah hari saja saya bisa mengunjungi Pasar Seni Sayang-Sayang, Pasar Cakra, Phoenix, dan pusat kerajinan mutiara. Sayang-Sayang terkenal dg kerajinan tangan dari kayu untuk menghiasi rumah. Saat itu Jumat pagi, Sayang-Sayang sepi. Pengunjungnya hanya kami bertiga. Sebagian toko juga masih tutup. Not much to see dan katanya harga lebih mahal.

Pasar Cakra di Jl Gede Ngurah Rai daerah Cakranegara adalah pasar tradisional namun ada toko yang menjual pakaian dg tulisan Lombok. Yeah, butuh bukti sudah pernah ke sana kan 😀 sesuai rekomendasi kami ke Toko Arif yang menjual dg harga grosir. Ada pakaian dari anak-anak sampai dewasa, celana pendek sampai daster, gantungan kunci, juga peci. Tawarlah setawar-tawarnya, apalagi kalau beli banyak.

Image
Pusat oleh-oleh mutiara dan pasar seni sayang-sayang

Lombok dikenal dg olahan rumput laut, salah satunya dodol. Produsen yg terkenal yaitu Toko Phoenix di Dasan Cermen Cakranegara. Di sini tidak cuma rumput laut yg menjadi dodol kenyal, ada pisang, nangka, mangga, dll. Bisa kalap deh belanja jajan di sini. Saat itu kami bareng dg turis dari Jepang. Bermodalkan ‘Kore wa’ dan ‘Oishii’ saya berkomunikasi dg si turis yang tertarik dg dodol nangka. Teman saya penasaran, kok bisa sih paham?

Budidaya mutiara air laut dan air tawar ada di sini. Kalau mau murah, mutiara air tawar yang cantik bisa dibawa pulang. Mutiara air laut harganya bervariasi tergantung bobotnya per gram. Di tiap toko pun ada mesin EDC, in case uang kurang dan mata kalap belanja perhiasan bisa bayar dg debit maupun credit card. Toko emas dan mutiara ada di Jl. Lingkar Selatan.

Husss husss kebanyakan ngomongin belanja nih. Lombok begitu berkesan dari awal hingga akhir liburan ini. Terima kasih teman-teman di Mataram dan sekitarnya yang sudah menemani dan mengarahkan kami selama tiga hari di Lombok. Tempat ini sudah terkenal di ranah internasional namun tidak meninggalkan cita rasa lokal. See you on the next round!

Image

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 2)

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 2)

Gili Air, Gili Meno, dan tentu saja Gili Trawangan. Tiga gili atau pulau kecil ini mudah didatangi dalam satu hari. Dari Senggigi kami bergabung dg pasangan yg sedang berbulan madu dan seorang teman yang merantau di Mataram (yang jadi local guide kami). Kapal umum dari Pelabuhan Bangsal tiap jam ada yang menyeberang ke Gili Trawangan. Dari Trawangan kami langsung menuju pos penjualan tiket untuk mencari info trip ke 3 gili. Beruntunglah kami karena trip oleh Lucky Trip hampiir berangkat. Trip ini setiap hari ada, start 10.30am ke Gili Meno  – Air – Meno – Trawangan, including sewa alat snorkeling, masker, fin, safety jacket, mineral water, and lunch (food only) total Rp 120ribu. Sebaiknya pesan dari awal untuk menu makanannya supaya cepat disajikan. Jangan kaget, harga makanan bisa 30-40ribu, yah harga bule lah namun it’s already part of the trip jadi tidak perlu membayar lagi, pilih saja yang disuka.

Image
Trip To Three Gilis

Kami dikumpulkan di dekat pos Lucky Trip untuk memilih fin yang cocok dg ukuran kaki. 90% peserta trip bukan WNI. Tumpek blek sekitar 30 orang dalam kapal, desak-desakan gitu. Well buat saya sih kurang manusiawi tapi murah, hehe. Ada 2 guide yang akan memandu selama snorkeling untuk mencari spot-spot yang cihuy. Waktu di tiap spot cuma 30 menit. Antara mau menikmati terumbu karang dan takut ditinggal rombongan nih.

Image
Trip Keliling 3 Gili

Entah faktor cuaca atau lokasi, arusnya lumayan kencang dan kami berhenti di tempat yang tergolong dalam jadi susah melihat terumbu karang dan hewan laut. Saya menemukan spot yang karangnya masih banyak dan hidup, namun jauh dari kapal Lucky Trip. Jadi was was ketinggalan. Saat mengambang di lautan eh ada pari manta berenang agak dalam, subhanallah.. Selain itu saya pun kesampean buat ketemu dan berenang dg penyu langsung di habitatnya. Saya rajin ikuti guide saat di spot penyu ini, di Gili Trawangan. Bravo!!! Kembali ke kapal belakangan dg senyum sumringah, I got it!

P.S: pic penyu nyusul yak 😀

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 1)

Lombok – Wisata Internasional, Cita Rasa Lokal (day 1)

Daerah seribu masjid dan seribu pantai ini menjadi one of top destinations yang penasaran aku datangi. Katanya pantai-pantainya lebih sepi dan ga kalah cantik dibanding Bali, pulau sebelahnya. Inilah Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat yang sempat aku kunjungi bersama dua kawan yang baru keluar dari hutan. Pancaran kebahagiaan tampak dari wajah mereka yang terlalu lama banting tulang dalam hutan di Borneo saat melihat pantai pantai dan pantai. Saya pun ikutan kepo dan katro meski tinggal di dataran rendah dan sering ketemu pantai. Sampai tulisan ini dibuat pun terbayang-bayang pemandangan di Lombok.

Lombok_Indonesia_Beutiful
Oh Joyful Lombok, Indonesia

LOP atau Lombok Praya atau Bandara Internasional Lombok (BIL) di Lombok Timur sangat unik. Ini kan bandara internasional, bangunannya baru (sebelumnya bandara di lombok barat daerah Mataram), namun tidak banyak tenants yang menjual berbagai produk layaknya di bandara (sebut saja: mahal). Kalau mau makan, ada warung-warung di bagian barat yang menjual nasi campur, bakso, dan makanan khas Indonesia. Saat itu di tengah teriknya matahari, serombongan orang berdiri di pinggir pagar pemisah untuk melihat pesawat landing dan take off. Di tempat parkir mobil pun ada lapak-lapak yang digelar penduduk untuk berjualan makanan maupun souvenir. Para penjemput duduk di lantai. Sebagian besar memakai sarung dan topi lebar petani.

Lombok_Airport
Lombok International Airport

Kedatangan di Lombok sudah disambut hal unik di bandara. Sekarang mari menjelajah pantai demi pantai. Bermodalkan motor sewa, peta pinjam, dan GPS kami menuju Pantai Kuta. Sebenarnya agak absurd mana ini yang dibilang pantai Kuta? Apakah sangat panjang garis pantainya? Karena kami ke 2 spot dan penduduk di sana bilang ini Kuta. So which one is correct? Warna airnya begitu mempesona. Ada batu-batu besar di pinggir pantai.

Iseng ikuti jalan, kami sampai di Pantai Putri Nyale yang letaknya tersembunyi di dekat Novotel Lombok. Sepi, hanya kami bertiga dan dua anak kecil yang menawarkan kelapa muda. Pasirnya seperti bulir merica. Kalau ada festival nyale, tempat ini ramai dikunjungi. Ada patung 2 pemuda dan seorang putri yaitu Putri Nyale. Konon putri ini menceburkan diri ke laut diikuti kedua pemuda yang jatuh cinta padanya. Dari laut muncul semacam cacing kecil disebut nyale yang dipercaya membawa keberkahan.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Pantai, gunung, sawah, kerbau (iya banyaaak banget kerbau) menghiasi Lombok. Jarak pantai-pantai yang kami kunjungi pun berdekatan, jadi dalam sehari bisa ke banyak tempat. Kami pun menuju Pantai Seger. Bersantai di sini, di bawah tempat duduk sederhana dg rumbai-rumbai jerami, ternyata bahagia itu sederhana. Setelah membeli minuman, kami ke Pantai Tanjung Aan. Di sini kami ditawari untuk naik kapal ke Pulau Batu Payung, lokasi syuting iklan rokok dengan biaya Rp 100ribu. Malas menawar, kamipun memilih foto-foto di sekitar pantai. Eh mas perahunya nawarin Rp 50ribu saja, mungkin karena saat itu sepi. Okelah kami menuju Batu Payung dan err…ga bisa merapat karena air surut. Kami berbelok ke Batu Kotak dan foto-foto di sana. Saat kembali ke Tanjung Aan, mas perahu dimarahi temannya karena terlalu lama sehingga kehilangan pelanggan. Heuu..ya maaf mas.

Sade_Sasak_Lombok
Wisata Pantai Hingga Budaya Suku Sasak di Desa Sade

Menjelang sore, kami bergegas kembali ke Mataram. Gosipnya daerah Lombok Tengah rawan setelah maghrib, rawan pencuri. Melewati Desa Sade yang dihuni Suku Sasak, sayang dilewatkan. Mampir dulu lah.. setelah solat di surau dalam desa tersebut, kami dipandu warga lokal berkeliling di desa tsb. Rumah adatnya unik karena lantainya dipel/dilapisi dg kotoran kerbau. Supaya ga bau, kotoran ini dipilih yang masih baru. Menurut adat, hal ini untuk menyucikan lantai. Kalau pernikahan, calon mempelai laki-laki harus menculik calon mempelai perempuan di rumahnya. Menculik di sini pun sudah janjian, adatnya memang demikian. Rumahnya tidak luas dan sangat sederhana. Peralatan dapurnya pun sebagian dari tanah liat. Minim ada alat elektronik di dalamnya. Yang khas dari Suku Sasak adalah atap rumah yang menggelembung. Sebenarnya itu lumbung padi. Jadi padi disimpan di lumbung yang letaknya tinggi. Kain tenun dg alat sederhana pun dapat dijumpai. Para wanita harus belajar menenun, kalau belum bisa maka belum boleh menikah.

sate_rembiga_lombok (2)
Nikmatnya Sate Rembiga

Ini pertama kalinya kami ke Lombok. Syukurlah jalanan di Lombok ini, terutama jalan utamanya hanya 1 lurus-lurus aja dan beraspal jadi nyaman buat kami para newbie. Sampai Mataram kami menuju kantornya teman, pas nih sudah jam pulang. Tampang kusut, belum mandi, bawaan segambreng, menunggu di parkiran. Untunglah ga diusir satpam. Selepas solat maghrib, kami wisata kuliner ke sate rembiga di jalan rembiga. Sate di sini bedanya bumbunya itu menempel dan meresap ke daging. Antara lapar dan enak, sate pun cepat habis. Lontong di sini berbentuk kerucut, disebut dg bulayak. rejeki memang tak diduga, kami ditraktir oleh teman saya yang besar dan baik hati, heheh peace Nar! Semoga makin banyak rejekimu karena traktir kami para musafir.

We need home to stay at night, to recharge our mind and body, so we chose Sonya Home Stay >> http://foottrip.wordpress.com/2013/07/12/sonya-home-stay-a-review/ . Cozy and cheap, Rp 80.000,-/day including breakfast a la bule. Lokasinya di daerah Senggigi, seberah kiri jalan dari arah Mataram. Tempatnya ke dalam jadi harus jeli kalau mau cari Sonya. Kasur cukup untuk 2 orang, kamar mandi dalam, ada rental motor, peta, dan paket tur. Good night everybody, good night Lombok and beaches, good night you.