Berasa Jadi Bos Saat Naik Bus

Naik bus sudah saya lakoni sejak awal merantau di Jakarta. Transportasi umum satu ini dapat diandalkan dengan berbagai fasilitas yang ada. Saya biasa membawa SID dari ia bayi hingga balita dengan naik bus. So far, kami merasa nyaman bahkan serasa jadi bos saat naik bus. Kok bisa? Lanjut baca ya…

ayo naik bus
Pelajari rute bus supaya enggak nyasar

Fasilitas Bus yang Nyaman

Selama ini kami mengandalkan bus Transjakarta untuk bepergian. Harganya murah, 3500 rupiah udah bisa keliling Eropa, eh Jakarta. Busnya ber-AC, ademnya bikin ngantuk. Dan yang paling keren, punya jalur sendiri sehingga bebas macet. Well, ada sih yang jalurnya gabung dengan moda transportasi lain. Tetapi untuk jalan besar yang tiap hari macet, bus Transjakarta melaju dengan santai di jalur khusus (busway). Ini lho yang bikin saya berasa jadi bos saat naik bus. Hahaha….

Oh ya, satu lagi yang membuat perjalanan naik bus semakin nyaman sekalipun membawa balita yaitu Tempat Duduk Prioritas (TDP). Tempat duduk ini ditandai dengan warna kursi berbeda dan stiker bergambar orang hamil, orang membawa balita, lansia dan disabilitas. TDP sebagai bentuk dari pelayanan kenyamanan transportasi umum yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang diprioritaskan seperti yang ada di gambar stiker agar mereka dapat menikmati perjalanan menggunakan transportasi umum dengan nyaman dan tanpa rasa khawatir.

Baca juga: Wisata Alam di Jakarta Utara

Di saat bus ramai, apalagi semakin dekat jam pulang kantor, saya dan SID alhamdulillah masih mendapat tempat duduk di TDP ini. Biasanya petugas akan mengarahkan dan meminta kesediaan penumpang lain untuk membagi tempat duduknya. Senang rasanya masih ada yang mau peduli memberikan kursinya pada yang membutuhkan.

Terkadang pula saya menolak untuk duduk kalau tujuan hanya terpaut 1-2 halte saja. Kasihan juga sih melihat orang pulang kerja, nampak capek, harus berdiri berdesak-desakan. Maunya naik bus yang kursinya bisa pijitin. Hahay… makin betah deh duduk di kursi pijat.

aturan naik bus di jakarta

Berebut Tempat Duduk Prioritas

Akan tetapi, ada kalanya saya menjumpai kondisi kursi prioritas (TDP) disalahgunakan oleh orang-orang yang kehilangan rasa empatinya kepada para pengguna prioritas tersebut.  Letak kursi prioritas dekat dengan pintu, so, ini tuh tempat strategis buat berebut tempat duduk. Ada yang pura-pura tidur (tapi sampai halte tujuan langsung terbangun), ada yang cuek main HP aja meski ada orang tua, ibu membawa anak, atau ibu hamil.

Yang kasihan tuh kalau ibu hamil muda, perutnya belum terlihat gede jadi kadang petugas enggak aware si ibu butuh duduk. Ini sih, bumil yang lebih tahu batas kekuatan diri. Kalau butuh tempat duduk prioritas, sebaiknya segera bilang ke petugas.

Baca juga: Bawa bayi naik Transjakarta

By the way, banyak kasus yang terjadi di transportasi umum menyoal hilangnya empati bagi orang-orang prioritas ini. Saya pernah menjumpai seorang bapak, nampak masih segar, duduk di kursi prioritas. Ketika ada lansia yang butuh tempat duduk, si bapak malah menyuruh ibu itu mencari kursi di tempat lain. Ah, mungkin bapak itu lelah jadi mau cepat duduk aja di situ (padahal kan itu kursi prioritas, Pak!).

Ayo Naik Bus

Kalau berdesak-desakan sampai rebutan kursi memang sesuatu yang lumrah di kendaraan umum, terutama saat jam sibuk. Namun, kondisi ini tidak terjadi di Jakarta saja. Kota-kota besar dunia yang sudah sangat maju transportasinya, seperti Tokyo, Singapura bahkan New York, masih mengalami kepadatan kendaraan umum saat jam-jam tertentu. Itu berarti transportasi umum seperti bus diandalkan masyarakat.

Akan tetapi, kemacetan ibukota yang didominasi kendaraan pribadi membuat warga Jabodetabek perlu beralih ke kendaraan umum. Capek, kan, tiap berangkat kerja harus nyetir di tengah kemacetan. Beli makan siang sambil cuci mata di mal, kena macet. Pulang kerja udah terbayang macet.

Lagipula, Jakarta semakin berkembang. Tiap tahun selalu ada penambahan jalan baru, infrastruktur secara masif mulai dibenahi, masyarakat pun perlahan tapi pasti mulai beralih ke kendaraan umum. Di Jabodetabek, pemerintah melalui Badan Pengelolaa Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan terus berupaya mengurangi kemacetan.

Baca juga: Travel-school journey

Kita juga bisa berkontribusi mengurangi kemacetan dengan naik transportasi umum. Memang, naik kendaraan umum tidak senyaman kendaraan pribadi (apalagi disupirin) tapi naik bus itu manfaat sosialnya banyak banget. Membantu mengurangi macet, mengurangi polusi, berhemat (lebih murah dari beli BBM untuk mobil pribadi), dan membuat hidup kita pun makin berkualitas. Dulu kemapanan itu tersimbol dengan mengendarai mobil pribadi. Kini, sejatinya “mapan” adalah mereka yang mau naik kendaraan umum. Ya seperti jadi bos saat naik bus Transjakarta yang bebas macet itu, lho.

Meski terasa jadi bos saat naik bus, bukan berarti terserah gue mau ngapain. Yang perlu diingat, saat naik kendaraan umum perlu menjalankan tata karma. Seperti mematuhi peraturan yang ada supaya enggak ada lagi drama rebutan tempat duduk prioritas seperti di atas. Kendaraan umum sejatinya adalah milik kita bersama. Oleh karena itu, kenyamanannya juga menjadi tanggung jawab bersama.  Ayo Naik Bus!

#AnakKota #AyoNaikBus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Author: helenamantra

Love to share stories on helenamantra.com and myfoottrip.com

4 Thoughts

  1. Saya jadi kangen naik TransJakarta. Sudah setahun ya saya nggak ngerasain TransJakarta Koridor 6 dan Koridor 1 karena saya berpindah ke Bogor. Duuuhhh … kartu TransJakarta saya sudah lupa saya simpan dimana.

  2. Sayangnya aku rada phobia naik bus sejak kecil, entah kenapa lihat bus bikin eneg dan pusing, kalau kereta, pesawat dan mobil pribadi mah enggak, cuma jika terpaksa pasti naik walau nahan mual dan pusing selama perjalanan heuheu

  3. Dulu sering naik busway kemana-mana kalau pas weekday dan gak dianterin si ayah. Sejak punya anak ketiga jadi naik mobil online kemana-mana kalau weekday ada acara. Masih takut bawa bayi naik angkutan umum . Pernah nyoba sekali ternyata anakku seneng dan gak rewel. Sekarang kayaknya mau naik busway lagi deh kemana mana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *