Bawean – Edisi Basah

Bawean – Edisi Basah

foottrip bawean (4) Dari peta Jawa-Bawean terlihat pulau ini dikelilingi laut sehingga mata pencaharian penduduk pulau ini kebanyakan nelayan. Penghasilan nelayan bergantung pada hasil tangkapan yang tak menentu membuat sebagian nelayan menyewakan perahunya untuk kegiatan wisata. Selama di Bawean kami menggunakan perahu nelayan untuk menyusuri keindahan laut Pulau Boyan. Berhubung perahu ini biasa digunakan menangkap ikan, bukan mengangkut orang, jadilah alat keselamatan seperti life jacket tidak tersedia. Kami meminjamnya dari Dinas Perhubungan dan LLAJ setempat termasuk peralatan snorkeling.

Tanjung Ghe’en / Tanjung Gaang

Daratan berupa batu karang ini bisa dijangkau dengan trekking namun kami menempuhnya dengan perahu. Tak hanya terpukau bebatuan kokoh di depan mata, di bawah perahu pun nampak terumbu karang berbagai jenis.

foottrip bawean (1)
Buat keluarga WD yang asin nan ku rindukan

Pulau Cina

Menurut pemandu kami, dinamakan Pulau Cina karena di tempat ini ditemukan keramik-keramik khas Tiongkok. Spot menyelam di sekitar pulau sudah terkenal hingga ke mancanegara. Untuk yang berminat diving harus membawa peralatan sendiri. Saat sampai di pulau ini ombak yang menghantam bebatuan cukup kencang. Saya yang berniat snorkeling mengurungkan niat dan memilih duduk di batu-batu hitam sepanjang pulau. Suasana tenang ditemani debur ombak dan matahari yang samar-samar tenggelam begitu menghanyutkan pikiran.

foottrip bawean (6)
Putri duyung terdampar di Pulau Cina

Pulau Gili – Noko

Pulau Gili di timur Bawean dihuni sekitar 700 jiwa. Pengajar muda dari program Indonesia Mengajar salah satunya ada di sini. Di samping Pulau Gili ada bentangan pasir putih bagian dari Pulau Noko. Cukup berjalan kaki antara Gili dan Noko. Di sekitarnya deretan terumbu karang menghiasi bawah laut Gili-Noko. Betapa beruntungnya penduduk Gili, mereka tinggal di surga!

foottrip bawean (3)
Halooo ikan ikan sekolah – Bawah laut Gili Noko

Pulau Noko – Selayar

Tak jauh dari Gili-Noko ada pulau yang lebih kecil namun tak kalah indahnya. Semakin mendekat ke pulau nampak ikan pari berseliweran di sekitar perahu. Pulau ini tak berpenghuni. Pasir putih bermeter-meter di depan mata. Kalau berkemah, saat pagi jangan kaget dengan puluhan burung camar di sekitar pulau. Lokasi ini menjadi salah satu tujuan rekreasi penduduk lokal. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal, ada program bersih-bersih Noko-Selayar seminggu sekali yang dilakukan beberapa nelayan. Sebaiknya bila berkunjung membawa kantong sampah sendiri supaya pulau cantik ini tetap terjaga kebersihannya (pesan ini disampaikan oleh pemandu lokal bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Bawean).

foottrip bawean (2)
Pose hampir kecebur (sambil bawa HP) di Noko Selayar – taken by Jafar

Danau Kastoba

Danau yang letaknya di Kecamatan Tambak ini bukan versi KW Danau Toba. Kastoba sendiri dipercaya sebagai nama pohon yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Mitosnya pohon kastoba dijaga oleh burung gagak supaya tidak ada orang yang menyalahgunakannya. Namun karena kelalaian gagak, ada seorang tuna netra yang sembuh setelah mengoleskan buah kastoba. Dewa-dewi memutuskan mencabut pohon ini dan dari dalam tanah munculah air yang menggenang hingga menjadi danau seluas 527 hektar.

foottrip bawean (5)
Ayo ke Bawean!

Pemandian Air Panas

Di dekat penginapan ada sumber air panas yang letaknya di pinggir jalan. Kami ke sana saat sudah gelap dan dalam keadaan lelah sehingga kami hanya mampir sebentar dan kembali ke penginapan. Trip selanjutnya perlu dicoba nih.

Nah itu beberapa tempat wisata basah yang saya kunjungi. Kalau wisata daratnya ada di edisi kering..

***bersambung ke episode berikutnya***

13 thoughts on “Bawean – Edisi Basah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: