My Foottrip

Helena's journey to here and there

Batu Raksasa di Situs Megalitikum

Welcome to Pokekea

Welcome to Pokekea

Ini patung apa? Bentuk aslinya bagaimana? Menggambarkan apa? Gunanya apa? Makam, berhala, atau maksud lain? Apa yang hendak disampaikan orang dari masa lalu? Bagaimana mereka memahat batu-batu raksasa ini? Begitu banyak pertanyaan bermunculan sesampainya di situs megalitikum yang merupakan bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Berhubung ke sana tanpa didampingi arkeolog atau ahli sejarah, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menggantung.

Tamadue Megalithic Site

Tamadue Megalithic Site

Di Desa Tamadue terdapat bongkahan bebatuan di suatu lapangan. Batu yang begitu besar ini diberi sesajen oleh warga sekitar yang mayoritas penganut Hindu. Letaknya tersembunyi di balik rimbunan pohon bambu tanpa ada papan penunjuk arah. Dipandu warga lokal, kami menuju situs megalitikum tersebut. Ada pula patung setinggi sekitar 170 cm berbentuk manusia yang nampaknya memakai peci. Kesan pertama saya, patung ini mirip Presiden RI pertama, Bung Karno.

Pokekea Megalithic Site

Pokekea Megalithic Site

Berbeda dengan Tamadue, situs megalitikum Pokekea lebih terawat. Ada papan penunjuk arah dan papan selamat datang. Kami ditemani oleh Simon, seorang anak yang rumahnya tepat di samping jalan setapak menuju Pokekea. Tempatnya lebih luas dengan batu berukir yang berbentuk seperti mangkuk setinggi 1,5 meter. Konon mangkuk ini semacam tempat mandi jaman dahulu. Ada bagian cerukan di dalamnya, bayangan saya itu tempat duduk sambil merendam kaki. Mangkuk ini dilengkapi dengan tutupnya yang sebagian tertanam di tanah. Tutup raksasa ini, bagaimana mengangkatnya? Dibutuhkan tenaga berapa manusia jaman sekarang kalau membawa tutup ini tanpa bantuan alat? Ada pula patung atau arca berbentuk manusia di Pokekea. Sebagian rekan saya berpendapat itu berbentuk monyet. Lebih baik bertanya ke yang lebih ahli daripada sotoy πŸ˜€

Tak jauh dari Pokekea, ada 2 situs namun saya hanya berkunjung ke situs Tadulako. Kami melewati pinggir sawah yang becek dan melompati pagar untuk bertemu satu-satunya patung di antara padang rumput yang begitu luas. Inilah Tadulako, atau dikenal sebagai pemimpin perang. Namanya tidak asing bila berkunjung ke Palu, ibukota Sulawesi Tengah, karena nama tersebut dijadikan nama universitas negeri di sana. Tadulako berdiri sendiri, seperti sedang menanti entah apa atau siapa. Di tempat itu saya malas beranjak pergi. Pemandangan sekitar begitu memanjakan mata. Matahari menembus kumpulan awan menyinari padang rumput, sesekali terdengar lenguhan kuda yang tertambat di dekat sawah, dan selalu di situ ada Tadulako yang menunggu.

Tadulako Megalithic Site

Tadulako Megalithic Site

« »

© 2017 My Foottrip. Theme by Anders Norén.

%d bloggers like this: