My Foottrip

Helena's journey to here and there

Akhirnyaaaa ke Bawean Juga

Hanyut dikit udah sampe Borneo (source: wikimedia.org)

Kalau menyebut Kabupaten Gresik, yang terbayang adalah daerah industri dengan pabrik dan polusi. Namun ada satu daerah dalam kawasan Gresik yang bebas bangunan raksasa pengepul asap. Sawah mudah dijumpai di daerah ini, jalanan kecil tanpa penerangan, serta sebagian penduduknya menjadi TKI di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Itulah Pulau Bawean atau ada yang menyebutnya Pulau Boyan juga Pulau Putri.

Bawean terletak 120 km di utara Gresik, di luar Pulau Jawa. Lokasinya yang dikelilingi lautan menyebabkan daerah ini sedikit tertinggal dari segi sarana dan prasarana. Akses utama melalui laut yang bergantung cuaca dan ketinggian ombak menyebabkan pengiriman barang terkendala. Entah sejak kapan di Bawean berlangsung pembangunan bandara yang hingga kini belum juga rampung. Kabar yang saya baca di koran beberapa hari lalu baru saja diresmikan pembangunan RSUD pertama di sana. Semoga pihak-pihak yang berwenang serius untuk melengkapi fasilitas bagi penduduk pulau ini.

Baiklah..berhubung ini maunya cerita tentang wisata di Bawean marilah kembali ke topik utama. Di samping kekurangan ini itu, Bawean memiliki pesona wisata yang terpendam. Saya sudah menanti-nanti sangat ingin ke sana. Selain ingin melihat langsung keadaan di sana dan berbaur dengan penduduk lokal saya juga kangen laut. Kalau kata dr. Astri, we need vitamin sea! Singkat cerita saya bergabung dengan tim random yang akan ke Bawean. Walaupun baru ketemu, 3 hari bersama mereka tetap asik dan sepertinya bakal lanjut untuk trip berikutnya, hohoh..

Natuna Express membawa kami menyeberang dari Pelabuhan Gresik ke Pelabuhan Sangkapura. Di belakang kapal bertumpuk barang bawaan penumpang, mulai dari koper besar, beberapa karton telur mentah, sampai sekarung bawang merah! Kami yang membawa ransel sepertinya nampak sangat turistik (baca: terlihat sedang berlibur alias menjadi turis). Begitu kapal merapat ke dermaga, kuli angkut masuk ke kapal menawarkan membawa barang dengan gerobak. Rupanya jalan dari dermaga ke pintu keluar cukup jauh dan hanya bisa berjalan kaki. Kalau membawa barang segambreng ya berat. Kendaraan pribadi dilarang masuk, kecuali akses khusus. Syukurlah mobil penjemput kami bisa masuk hingga ke dermaga.

Kami langsung menuju homestay untuk meletakkan tas, makan siang, dan bersiap untuk basah edisi pertama. Namanya juga main di pulau yang dikelilingi laut, bakal banyak tempat wisata air yang dikunjungi. Hmm..kemana saja ya?

***Bersambung seperti sinetron endonesa dewasa ini***

« »

© 2017 My Foottrip. Theme by Anders Norén.

%d bloggers like this: